Archive for February, 2006

Kena getah

Monday, February 13th, 2006

    Jika memang kena getah sehabis makan durian mungkin itu adalah hal wajar. Namun jika tidak memakannya tapi kena getahnya, mungkin memang sedang tidak bernasib baik. Di Indonesia memang banyak terjadi kasus bom bunuh diri dan kebetulan mereka mengaku Islam bahkan beredar video pernyataan bahwa mereka bangga dan merasa benar bertindak demikian. Belum lagi kemudian kasus karikatur pelecehan Islam. Yang tentu saja sangat menyinggung perasaan kita sebagai umat Islam. Namun ketika kasus tersebut berkembang menjadi aksi-aksi kekerasan lagi-lagi umat Islam yang dituding sebagai umat yang tidak beradab.

    Aktivitas perusakan-perusakan kedutaan besar negara yang dinilai tidak berempati terhadap kasus pelecehan umat Islam di negara-negara mayoritas berpenduduk Islam menjadi santapan empuk media untuk makin mendeskriditkan umat Islam. Tak hanya perang image di media namun melebar hingga pada tataran kebijakan politik dan birokrasi.

    Mestinya jika Indonesia tidak masuk ke dalam list negara dengan ancaman bahaya terorisme, maka urusan untuk memperpanjang visa akan lebih mudah. Juga ketika hendak bekerja. Dengan status student seharusnya aku masih bisa bekerja selama dua bulan. Karena ketidak tahuan adanya sistem screening bagi setiap orang yang berkewarganegaraan seperti yang tercantum dalam list, aku memasukkan berkas dokument hanya beberapa hari sebelum awal bulan ferbruari. Aku pikir kerja sebagai student tidak akan memerlukan proses birokrasi yang panjang. Ternyata hal itu salah. Waktu untuk klarifikasi visa dan ijin kerja saja memakan waktu 2 minggu dikarenakan Indonesia bukan bagian dari Uni Eropa. Tambahan lagi karena termasuk ke dalam kategori negara teroris maka dibutuhkan waktu minimal 4 minggu untuk mengklarifikasikan data-data kita apakah terlibat dalam jaringan radikalisme Islam. Sehingga sisa waktu untuk bekerja sudah sedemikian berkurang.

    Seringkali ada perasaan menyesal dan gemas terhadap  sistem birokrasi  Jerman. Namun mungkin kita dipaksa harus menerima karena mereka secara logis mengatakan tidak mau berkompromi dengan teroris dan harus melindungi negaranya dari ancaman-ancaman teror. Lalu terkadang penyesalan beralih kepada para teroris atau sekelompok masa yang melakukan aksi brutal. MEngapa mereka tidak terbersit kesadaran bahwa saudara-saudara mereka yang tinggal di luar negeri akan semakin terancam. Mengapa aksi mereka tidak dibuat sedemikian rupa supaya lebih santun. Namun kemudian muncul lagi pertanyaan berikut, bagaimana mereka bisa berempati dengan saudara setanah air yang di luar negeri, toh saat para TKI bersenang-senang dengan hasil kerja yang berupa mata uang asing,  mereka tak pernah merasa kebagian. Duh, duh memang serba salah………

Di rumah

Tuesday, February 7th, 2006

Di luar salju masih turun begitu deras, dari pagi hingga saat ini padahal matahari sudah mulai tenggelam. Kegiatan apakah yang paling enak ketika cuaca seperti ini. Tentu saja di rumah sambil minum teh, makan indomie rebus, sambil sesekali buka internet dan chatting. Tapi ternyata gak seperti itu jika ada ada anak di rumah. Senang memang sepanjang hari bisa bermain sama anak. Kondisi rumah wah-wah dari ujung ke ujung acak-acakan. Meski aku udah bosen banget main masak-masakan sama Adna, anak itu rasanya tak kehabisan akal untuk tetap bergerak. Di suruhnya lah aku main kejar-kejaran di flat yang mungil ini. Main bola, menggambar, dan banyak lagi. Dan Adna masih juga belum mau tidur siang. Lama-lama aku tergoda berinternet ria maka Adna juga gak mau kalah, dia nonton TV. Wah di internet ada teman lama di Indonesia, wah…wah…Enung, Ratna, kalian ternyata belum pulang dari kantor. Gak terasa waktu hampir sejam chatting. Terus buka email, browsing berita, tak ketinggalan baca-baca blog orang lain. Wah..wah..waktu terus beranjak sejam…dua jam…tiga jam……

Dan tiba-tiba hati tersentak, wah udah kelamaan nih ninggalin si Adna nonton TV terus. Padahal meski sudah di channel anak-anak tentu saja tayangan-tayangannya gak seratus persen ideal. Apalagi iklan-iklan ini itu bersliweran. Untuk sesaat merenung, memang ada saatnya butuh waktu untuk istirahat dan melihat dunia lain namun agaknya tak terlalu tepat jika mengorbankan waktu kebersamaan dengan si anak. Mengapa tak dilakukan saat dia tertidur atau menunggu suami datang untuk bergantian menemani anak bermain. Na..ja……moga kelalaian ini tak terulang lagi. Semoga….