Archive for March, 2006

Apalah arti sebuah nilai

Friday, March 31st, 2006

Dulu semasa masih kuliah di ITB, seorang dosen pernah bilang "Apalah arti sebuah nilai". Jadi maksudnya memotivasi para mahasiswa untuk lebih mengorientasikan belajarnya pada pemahaman materi daripada hanya untuk mengejar nilai tinggi.

Tapi bukankah jika kita memahami materi maka secara otomatis nilai yang di dapat akan lebih baik daripada yang tidak paham. Yang tidak paham bagaimana pun dia berusaha belajar tetap saja akan sulit memecahkan soal ujian. Meski seringkali memang ada tipe-tipe dosen yang membuat soal ujian dengan tipe yang sama dari tahun ke tahun. Biasanya para mahasiswa hanya sehari atau dua hari belajar kebut dan hanya fokus pada soal-soal tertentu dan jika dia beruntung maka akan dengan mudahnya menyelesaikan soal itu yang seakan-akan langkah-langkahnya sudah dijiplak habis dari hasil belajar semalam.

Apakah hal demikian berlaku ketika kuliah di Jerman?. Dulu saya tidak mengira bahwa akan menginjakkan kaki dan belajar di universitas ngetop di Jerman. Sebagaimana kita ketahui masuk ke jenjang unversitas bagi pelajar-pelajar di Jerman itu tidaklah mudah. Mereka tidak  memakai sistem Ujian Masuk Perguruan Tinggi melainkan hanya melamar ke universitas yang diidamkan. Universitas masing-masing akan melihat nilai mereka. Jika nilai tersebut di atas standar, maka mereka boleh masuk. Tidak ada quota kursi untuk masuk ke PT di sini. Jadi jangan heran jika angkatan pertama bisa sampai di atas 500 orang. Namun mereka menerapkan seleksi di dalam. Ujian-ujian di Universitas benar-benar menyeramkan. Kertas ujian bisa sampai 10 halaman dengan pertanyaan puluhan. Pertanyaan itu essay semua dengan waktu yang singkat dibandingkan dengan jumlah soal.

Maka tak heran dari 500 anak yang masuk  pada tahun pertama hanya bertahan 50 orang saja di akhirnya. Biasanya mahasiswa yang tidak masuk ke lobang seleksi akan mengambil sekolah yang memiliki rangking lebih rendah. Sehingga bisa dibayangkan bagaimana kualitas 50 orang tadi. Dan ketika saya masuk ke Institut untuk mengerjakan thesis maka saya bertemu dengan 50 orang tadi.

Bagi saya kepandaian mereka dalam menguasai ilmu tidak jauh beda dari temen-temen saya yang pinter-pinter di ITB dulu.  Tapi ada kelebihan yang mereka miliki yaitu ketelatenan, kerapihan dalam bekerja, manajemen waktu, kerapihan administratif, dan tentu saja ketelitian yang tinggi. Saya sadar sekali bahwa saya tidak memiliki kepandaian seperti mereka begitupula pengetahuan yang ada di kepala saya masih minim. Kemampuan analisa saya memang tidak istimewa bahkan bisa dikatakan kurang. Saya sangat sadar dan tentu saja akan sulit bagi saya untuk menjadi seorang konseptor ulung.

Dalam mengerjakan Thesis kemaren pun saya tidak begitu banyak mengemukakan konsep-konsep. SAya hampir seratus persen mengikuti apa yang dilakukan pembimbing saya. Dan ketika bekerja di Lab juga tidak serapih mereka. Tapi saya pun merasa tidak pernah melakukan kesalahan fatal yang merugikan lab misal seperti merusak alat. Dan memang diakui bahasa Inggris saya masih belum sempurna. Oleh karena itu saya mendapat banyak sekali koreksian ketika membuat Thesis. Thesis pun selesai dengan tidak banyak ilmu yang menempel di kepala. Rasanya rugi sekali tapi saya sadar bahwa kemampuan memang sudah menok.

Namun hari itu tetaplah menjadi hari kelabu. Manakalah si Ayah mengambil surat dari TUM dan ketika dibuka nilai Thesis yang tak terduga jeleknya. Hari itu saya menangis teringat akan kerja keras selama ini. Namun kembali terngiang dalam benak saya, apakah kerja keras saya sudah sebanding dengan kerja keras mereka yang harus tertatih-tatih melalui ujian-ujian sadis untuk mencapai puncak thesis. Ujian-ujian sadis itu ternyata telah membentuk pribadi-pribadi yang dingin, rasional, dan perfeksionis. Kerjaanku? hmmm ke laut aje kali ye….

Memilih istri

Sunday, March 26th, 2006

      Seorang teman pernah bertanya kepada saya, " Apakah sebaiknya seorang pria itu memilih istri tidak perlu pandai-pandai…..,"." Dia tidak perlu sarjana, cukup tamatan sekolah menengah atas atau sekolah ketrampilan putri". "Pokoknya asal dia bisa enjoy dengan kehidupan rumah tangga dan segala tetek bengeknya, bisa menata rumah dengan baik, memasak, mengurus anak, tidak pernah protes ini itu", tambahnya lagi dengan penuh semangat. "Memang kenapa?" saya jadi heran. "Iya, terkadang semakin pintar istri terkadang semakin banyak keinginannya", katanya.

"Misalnya? "

"Yah yah misalnya terkadang protes jika seharian hanya mengurus rumah tangga dan anak saja". "Mengapa tidak ada waktu untuk diri sendiri sekedar untuk baca buku saja…!". Padahal kaum pria yang sudah capek dari kerja kan penginnya relaks istirahat bukan malah diserahin gendong anak, okelah main-main sebentar dengan anak dengan catatan anaknya gak nangis mulu !".

    Ah padahal di lain waktu seorang teman yang lainnya pernah mengeluhkan sifat calon istrinya. Seperti  kok calon istri saya orangnya selalu penurut yah. Setiap saya punya ide selalu dia setuju. Kelihatannya dia tidak punya inisiatif sama sekali. Saya ingin cari istri yang pandai supaya bisa sharing diskusi. Bukan hanya mengekor apa maunya saya.

     Dulu orang tua saya selalu bilang kepada anak-anaknya bahwa istri/suami mu adalah teman hidupmu. Carilah pasangan yang memang kamu berharap dia menjadi teman hidup sepanjang hayat. Sepertinya pesan itu adalah pesan yang sangat atau terlalu sederhana. Mengapa tidak dibilang suamimu adalah Arjuna-mu atau istrimu adalah Srikandi-mu. Namun mungkin itulah suatu kesimpulan akan arti suami/istri dari pasangan yang sudah puluhan tahun mengayuh biduk rumah tangga.

   Teman sebagaimana kita ketahui tentu saja bukanlah makhluk sempurna. Tapi mengapa kita selalu saja senang menjalin komunikasi, tempat curhat, tempat berbagi. Ketidaksempurnaannya selalu banyak ditutupi oleh perkataan maaf. Jadi bukanlah soal memilih istri harus pandai atau biasa-biasa saja. Karena ketika sudah terpatri pada pola pemikiran  mengapa tidak begini tidak begitu maka beribu angan akan mencuat dan mungkin akan menjadi jalan bagi Syaithan untuk terus menggoda. So, mengapa pasangan kita tidak kita anggap saja sebagai teman hidup kita. Mungkin terkadang mereka memang menjengkelkan namun bukankah seperti yang telah disebutkan di atas ada seribu maaf buat seorang teman. Siapa tahu saja kita pun sering menjengkelkan mereka.

    Sayangnya pemikiran ini sekali lagi terlambat dilontarkan. Saat kedua teman itu mengajak berdiskusi saya malah setengah kesal sambil berpendapat yang bernada mendukung istri-istri mereka. "Loh istri pandai kan bisa dimanfaatkan untuk mengajar anak-anak". "Loh…istri penurut bukan berarti tidak intelek lho…bla..bla…bla…Hahahhaha…..biasalah solidaritas perempuan.

Workstudent

Friday, March 10th, 2006

    Workstudent? apaan sih. Workstudent adalah kerja yang dilakukan  oleh  mahasiswa baik itu di institusi pendidikan ataupun industri.  Sejak saya selesai  mengerjakan thesis Desember lalu otomatis memang selesai pula masa studi saya di Master Engineering Physic TU-Muenchen. Selesainya pun tidak seperti di Indonesia yang dirayakan dalam bentuk wisuda, di sini hal terebut sama sekali tidak dikenal. Namun karena status student saya baru selesai akhir maret ini, maka saya bisa juga mengambil porsi kerja buat mahasiswa.

     Di Indonesia memang istilah workstudent  tidak dikenal. Sebetulnya workstudent sendiri adalah suatu kebijakan yang memberi peluang kepada mahasiswa untuk mencari uang. Jika di Indonesia banyak dikenal dengan sebutan beasiswa dimana tanpa perlu susah-susah bekerja langsung terima uang maka di sini beasiswa sangat jarang ditemui. Bahkan sampai saat ini pun saya belum pernah bertemu mahasiswa yang dapet beasiswa ataupun pengumuman di papan tulis yang menyatakan ada pihak tertentu yang memberikan beasiswa.

      Di Jerman sendiri sebuah universitas yang terdiri dari grup-grup penelitian bergerak bukan hanya pada masalah pendidikan semata tapi juga organisasi usaha yang berorientasi pada mendapatkan uang. Sang profesor sebagai pemimpin grup penelitian tidak hanya rajin mengajar tapi juga rajin cari proyek. Biasanya proyek-proyek tersebut akan digulirkan ke anak buahnya yang biasanya adalah mahasiswa S3 (para calon doktor atau calon PhD). Proyek inilah yang kemudian secara ilmiah akan dikembangkan dalam bentuk riset dan tentu saja membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Maka tak jarang mereka pun akan senang hati menerima mahasiswa S2 (diplom atau master) yang mau bekerja untuknya sebagai workstudent.

       Workstudent sendiri bekerja dengan waktu yang disesuaikan dengan jadwal perkuliahan sehari-hari. Jika perminggu hanya memiliki waktu lebih 10 jam, maka ia bekerja untuk 10 jam saja. Kasus saya karena saya sudah tidak memiliki beban perkuliahan maka bisa mengambil 20 jam atau lebih. Tentu saja karena bekerja di universitas maka gaji yang didapat tidak lebih banyak dibandingkan jika bekerja di perusahaan. Namun dibandingkan dengan sistem kerja yang tidak terlampau ngoyo agaknya memang tidak terlalu masalah. 

        Workstudent ini sangat kondusif dalam mengembangkan iklim kerja kepada para mahasiswa.  Mungkin pula ketiadaannya beasiswa memang diharapkan agar para mahasiswa dipaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Jika di Indonesia dikembangkan hal tersebut mungkin iklim penelitian akan lebih maju. Jadi mungkin perusahaan-perusahaan yang ingin memberi beasiswa sebaiknya menyalurkan uangnya kepada universitas lalu dibuatlah sistem workstudent ini. Misalnya ada workstudent yang membantu kakak-kakak kelasnya membuat Tugas Akhir. Atau workstudent tersebut membantu para teknisi dalam memperbaiki alat-alat. Tentu saja jenis-jenis pekerjaannya pun ringan-ringan. Dan setelahnya ia mendapat bayaran tertentu.

         Sistem beasiswa sendiri memang sangat membantu mahasiswa dalam mengatasi kekurangan-kekurangan finansial tanpa mengeluarkan energi sehingga bisa lebih konsentrasi pada belajar. Tapi kenyataannya banyak beasiswa yang larinya ke orang-orang yang sudah mampu dengan aling-aling beasiswa tersebut memang buat anak pintar dan tak masalah apakah ia berasal dari keluarga berkecukupan atau tidak. Dan akhirnya nilai uang itu menjadi rendah hanya untuk sekedar traktir-traktir. Apakah tidak lebih baik jika anak pintar yang dari keluarga mampu pun diberi kesempatan untuk merasakan susahnya cari uang dengan bekerja. Mungkin saja ini berguna bagi masa depannya.  So, mudah-mudahan ke depan sistem beasiswa mesti ditinjau ulang guna lebih menghasilkan manusia-manusia yang tidak hanya cakap ilmunya tapi juga cakap etos kerjanya.

Gaya hidup 2

Saturday, March 4th, 2006

Menyikapi perbedaan gaya hidup di Indonesia dan di Jerman bagi saya dan suami agaknya tidak terlampau bermasalah. Sebab praktis kami memang memulai kehidupan rumah tangga di sini. Suami juga pertama bekerja di perusahaan semikonduktor Jerman. Sehingga kami sama-sama belum pernah mengalami memiliki pembantu rumah tangga. Bagi kebanyakan orang yang sudah terbiasa menggunakan jasa PRT memang sangat sulit untuk mengatur ritme kehidupan serba mandiri dan serba berorientasi waktu di luar negeri.
Bagi saya adaptasi pertama ketika tinggal di sini adalah keharusan bisa masak. Maklum dulu ketika masih tinggal dengan orang tua mamak selalu menyiapkan hidangan di atas meja. Juga ketika kuliah dulu makan bisa tinggal mudah didapati di warung-warung atau abang-abang penjual jajanan. Tapi di sini mana ada. Warteg sini yah hanya Mc Donald atau kebab Turki. Jajanan gorengan sini yah paling backery-backery yang menjual beraneka roti. Jadi untuk mengobati kerinduan jajanan Indonesia seperti bakso, somay, batagor, dll harus dibuat sendiri.
Untung saja Toko-toko Asia mudah ditemui. Hampir semua bumbu-bumbu yang ada di Indonesia juga ternyata tersedia di sana. Bahkan yang membuat saya kaget saya menemukan jantung pisang di lemari pendingin. Wah-wah ternyata orang Asia lain seperti Thailand, Vietnam, Cina juga mengkonsumsi jantung pisang. Saya jadi teringat ketika mamak bercerita seorang tetangga di kampung yang hidupnya berkekurangan untuk makannya terpaksa memasak jantung pisang. Wah padahal di sini jantung pisang itu mahal sekali. Suatu saat saya harus bilang ke mamak bahwa jantung pisang jadi makanan elit di sini. Juga yang namanya labu siem, kangkung, kacang panjang, menjadi sayuran ‘emas’ sangking mahalnya. Tempe dan tahu pun naik daun. Bayangkan 250 gram tempe itu harganya 1,5 euro dan tahu 1 euro. Sedangkan ayam sekilo hanya 1,99-2,99 euro.
Jadi jangan heran jika masih keranjingan makan tumis kangkung, goreng tempe, oseng-oseng kacang panjang harus merogoh kocek yang lumayan. Untung saja banyak dari kalangan ibu-ibu berpengalaman yang sudah memodifikasikan masakan. Seperti sayur krecek tahu, kacang tolonya diganti kacang merah kaleng. Sayur labu siam santen yang biasanya dimakan dengan lontong diganti dengan kohlorabi yaitu sejenis sayuran jerman yang karakter rasanya mirip dengan labu siam. Daun kohlorabi yang bagi sebagian orang jerman dibuang di tempat pembuangan daun-daun di supermarket ternyata oleh orang-orang indonesia dimanfaatkan. Banyak yang diam-diam memungutinya. Saya pun pernah melakukannya meski baru sekali. Ternyata daun itu bisa dimasak seperti daun singkong. Tapi lama kelamaan saya malu memungutinya lagi, padahal orang lain juga gak akan peduli cuma kok rasanya gimana gitu.
Tapi jika dipikir-pikir memasak di sini jauh lebih mudah daripada di indonesia. Di kampung saya jika harus memasak opor atau rendang maka mamak harus dengan susah payang memarut kelapa dan memerasnya berulang-ulang. Belum lagi semua bumbu-bumbu mesti diulek. Jaman saya kecil bahkan ayamnya masih hidup jadi harus disembelih dan dicabuti bulu-bulunya dulu. Sedangkan di sini semua daging dan ayam sudah bersih dan dipotong-potong, santan juga dijual dalam wadah kemasan, dan bumbu-bumbu Indofood yang harganya relatif tidak terlampau mahal bisa langsung dipakai. Atau jika memang ingin memiliki cita rasa yang mantap bisa memakai bumbu-bumbu yang diblender.

Gaya hidup 1

Saturday, March 4th, 2006

    Suatu kali saya pernah membaca berita pernikahan seorang putri Kaisar Jepang (Akihito) yang bernama Sayako  dengan seorang pemuda dari kalangan biasa (non royal family) pada pertengahan bulan November 2005 . Berita tersebut beberapa kali dilansir oleh media karena hal tersebut begitu mengejutkan publik. Publik dahulu mengenal putri Sayako sebagai seorang feminis tulen yang mendukung penuh seorang wanita mengejar karrier dan mengenyampingkan pernikahan. Ia sendiri seorang ahli di bidang perburungan dengan karier cemerlang. 

    Agaknya waktu telah mengubah segalanya. Seorang pemuda bernama Yushiko Kuroda yang bekerja di pemerintahan Tokyo sebagai urban designer telah melunakkan hatinya. Ia bukanlah Sayako yang feminis lagi bahkan telah berbalik 180 derajat dengan meninggalkan karier cemerlangnya itu untuk mengabdikan diri pada mahligai rumah tangga dan menyiapkan diri untuk menjadi seorang ibu. Yang tak kalah mengejutkan lagi ia telah berani mengambil konsekuensi untuk melepaskan status kebangsawanannya karena peraturan kerajaan menetapkan bahwa barang siapa yang menikah bukan dengan kalangan bangsawan maka ia harus dengan sukarela melepaskan status kebangsawanannya termasuk tidak lagi mengecap segala fasilitasnya.

    Apakah arti seorang rakyat biasa di tengah kehidupan masyarakat modern di negara maju. Jangan bayangkan kehidupan di negara maju seperti di negara kita tercinta, Indonesia. Di Indonesia dengan pekerjaan biasa saja sudah tak aing lagi memiliki pembantu rumah tangga lebih dari satu. Di negara maju agaknya fasilitas itu hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan atau pun kalangan milyader saja. Maka tidak heran ketika putri Sayako memutuskan untuk keluar dari The Royal Familiy-nya ia harus belajar memasak dan menyetir mobil.

    Beberapa rekan yang dulunya memegang jabatan tinggi di Indonesia dan ketika perusahaannya gulung tikar karena krisis moneter akhirnya banting setir untuk merantau ke Jerman dan bekerja di beberapa perusahaan. Beberapa menghadapi perubahan drastis pula dalam gaya hidup. Mereka bilang bahwa kehidupan di jerman telah membawanya kepada tingkat kehidupan yang lebih rendah. Ia harus menyetir sendiri atau naik transportasi umum sementara sang anak harus bisa membereskan mainan dan kamarnya sendiri. Sang ibu setiap hari selalu bergelut dengan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya. Dari mulai memasak, membereskan rumah, nyuci piring, setrika, dsb. Rumah pun bukan lagi di real estate dengan luas minimal 200 meter persegi ditambah dengan halaman hijaunya namun hanya flat dengan luas tak lebih dari 90 meter persegi dan tentunya tanpa halaman hijau. Belum lagi harus berdempetan dengan flat lain yang terkadang membawa keprihatinan tersendiri. Bagaimana tidak, banyak sekali orang Jerman yang sangat sensitif dan tidak toleran. Anak-anak tak jarang harus berjalan berjingkat-jingkat, tak boleh bersuara tinggi, tak boleh dengan asyiknya bermain hanya karena tetangga sebelah yang protes.