Archive for April, 2006

Emansipasi-1

Wednesday, April 19th, 2006

    Wajahnya manis dengan gaya yang juga sportif berkenalan denganku saat hari pertama menginjakkan kaki di sebuah ruangan tempat kuliah di TU-Muenchen. Namanya Judith (bukan nama aslinya) asli Amerika. Pertama ngobrol sempat grogi juga dengan gaya bahasa yang ‘native speaker’ banget. Untuk ukuran perempuan ‘barat’ mungkin dia tergolong unik. Ia menikah muda saat usianya menginjak 22 tahun dan memiliki seorang anak ketika berusia 24 tahun.

    Darinya aku banyak mengenal dunia perempuan di luar dunia perempuan yang sudah aku kenal atau mungkin biasa disebut dunia ‘timur’. Di awal pernikahannya dia sudah berkomitmen dengan suaminya bahwa dia bersedia menikah dan memiliki anak hanya satu. Dan itu tetap teguh dipegangnya hingga saat ini. Anaknya kebetulan satu kelas dengan Adna di Kindertagestaete TU-Muenchen (semacam day care). Anaknya juga tipe anak ‘manis’, tidak manja, mandiri, dan juga sayang dengan anak yang lebih muda. Maka tak heran jika Judith bercerita bahwa anaknya meminta seorang ‘adik’ , tapi sayangnya Judith langsung menolak. Bahkan ketika sang anak merajuk dengan menurunkan standarnya yaitu meminta seekor anjing saja sekali lagi Judith menolak dengan tegas.

    Untuk manajemen rumah tangganya dia bercerita bahwa dia menetapkan kesetaraan secara total dengan sang suami. Karena kebetulan suaminya yang orang jerman itu pintar masak, maka setiap hari suaminyalah yang masak. Judith sendiri lebih memilih belanja. Jam kerja suaminya yang asisten profesor di universitas yang sama kebetulan pula memungkinkan pembagian waktu yang lebih fleksible dan letak kantornya yang juga dekat dengan daycare anaknya sehingga urusan antar jermput anak mereka pun membagi perannya dengan sama banyaknya.

    Suatu hari aku pernah bertemu dengannya di subway arah ke kota. Aku saat itu juga dalam perjalanan pulang setelah seharian di kampus. Ia bersama rekan yang lain duduk di depanku. Kamipun mengobrol di sepanjang jalan. Ternyata mereka hendak pergi ke Bioskop Universitas yang letaknya memang di tengah kota. Kampus kami memang jauh di luar kota dan untuk ke kota dibutuhkan waktu hampir satu jam. Saat itu aku menanyakan kabar anaknya yang sudah masuk TK dan tidak di daycare lagi karena sudah berusia 3 tahun. Judith bercerita bahwa anaknya sedang sakit di rumah. Tapi sudah sejak Senin-Rabu dia terus yang menjaga anaknya maka sekarang giliran sang suami yang menjaga sang anak untuk 3 hari ke depan. Dengan demikian dia punya waktu sendiri untuk jalan dan nonton bioskop.

    Di hari lain saat kuliah berlangsung dan disela dengan break 10 menit untuk para mahasiswa minum atau keluar sebentar menghirup udara segar, Judith dengan tanpa segan memanggil nama depan sang Dosen (di dunia ‘barat’ memanggil nama depan adalah tanda kedekatan dengan seseorang) yang seorang profesor muda untuk menitip membelikan minuman Coca Cola. Memang tampaknya ia cukup punya relasi yang sangat akrab dengan dosen itu. Namun di kesempatan lain aku pernah mendapati dia membuat dua cangkir kopi hangat dari dapur yang dia bilang bahwa yang satunya dia buatkan untuk sang profesor muda itu.

    Suatu hari ketika kuliah lain berlangsung, kami mendapati pemandangan yang sangat aneh. Sang profesor yang sudah berumur ditemani oleh asistennya yang seorang mahasiswi S3 dengan paras cantik dan anggun. Namun yang mengherankan setiap kali sang Profesor itu selesai menulis maka sang asisten itu dengan sigapnya menghapus tulisan profesor yang sudah penuh dengan spon basah dan kemudian mengeringkannya (model membersihkan kapur tulis seperti ini agaknya patut ditiru untuk menghindari debu-debu yang bertebaran). Padahal profesor lainnya selalu membersihkan sendiri.  Ketika kuliah berakhir  dan sang profesor meninggalkan ruangan sang asisten masih tinggal di kelas untuk memberikan tutorialnya. Dia pun menulis di papan tulis dan ketika papan tulis itu seudah penuh dan ia hendak menghapusnya, Judith yang duduk di belakang pun berteriak lantang, " Mengapa kamu gak memanggil profesor itu untuk membersihkan tulisan kamu seperti yang kamu kerjakan tadi?". Sang asisten pun hanya bisa tersenyum simpul dan melanjutkan membersihkan papan tulis itu sendiri.

Hmmm……apakah cara pandang Judith mewakili gaya emansipasi perempuan barat pada umumnya?. Memang hal yang satu ini selalu menarik perhatianku. Bukan berarti aku ingin meniru tapi paling tidak memperkaya referensi suatu pandangan dan kultur yang ada di luar kita. Mungkin bagi kita agak kelihatan janggal, karena kita menghubungkan aspek-aspek lain pada diri kita. Padahal mungkin jika kita secara objektif memandang keseluruhan aspek kehidupan mereka maka kita akan mengerti mengapa mereka melakukannya.

Ikhlas

Sunday, April 2nd, 2006

    Ikhlas…..kata-kata ini mungkin sudah sangat familiar di telinga kita. Namun apakah sudah pula familiar di hati kita. Pertanyaan ini seringkali menggelitik dalam hati dan pikiran saya. Ikhlas memang sangat abstrak hingga pada akhirnya terselubung menjadi semacam rahasia antara dia dan Sang Khalik.

    Saya tertegun beberapa waktu lalu ketika membaca wawancara seorang ibu dari Pare-Pare yang dimuat di milis yang dicuplik dari www.hidayatullah.com. Kebetulan salah satu putranya saya kenal. Sang putra ini kebetulan sedang melanjutkan s3-nya di Austria sudah memiliki 3 anak dan usianya jauh di atas suami saya. Dia terkenal sangat ramah dan "mbapaki" (kalau perempuan mungkin keibuan). Saat rombongan kami dari muenchen berkunjung ke asramanya, dia sudah menyediakan berbagai panganan dan bahkan memasakkan sesuatu. PAdahal rombongan kami yang terdiri dari ibu-ibu pentolan masak (kecuali saya) sudah membawa bahan makanan yang siap dimasak di sana.

    Maka saya bisa membayangkan bagaimana kepribadian sang Ibu yang oleh "Hidayatullah" disebut wanita mulia. Ibu ini khabarnya memiliki 15 orang anak dan yang mengagumkan semuanya berhasil meraih sukses dalam bidangnya masing-masing. Sebagian besar  anak-anaknya bahkan berhasil meraih gelar Master dan Doktor. Padahal beliau membesarkan anak-anaknya seorang diri karena suaminya sejak 1985 meninggal dunia. Mungkin hampir seperti kisah ibunda Gus Dur atau Ibunda Habibie atau ibunda teman saya dulu di ITB yang bisa dibilang sukses membesarkan anak-anaknya yang banyak itu sendirian. Rasanya membuat hati ini mengharu biru.

    Kembali pada sang Ibu, beliau berkata bahwa kunci membesarkan anak-anak adalah dengan keikhlasan. Agaknya kata-kata ikhlas yang abstrak itu dapat diterjemahkan ke dalam bahasa aplikatifnya dari perilaku si ibu tersebut. Kata beliau dalam mendidik 15 anaknya itu ia tidak pernah mengeluh. Subhanallah rasanya saya ingin sekali memandangi wajah agungnya itu. Padahal saya sendiri seringkali mengeluh capek dan pusing mendengarkan rengekan anak yang baru satu. Sekali lagi mungkin saya harus banyak belajar.

    Kemudian katanya pula keikhlasan itu adalah tertuang dalam memberi. Terkadang mungkin tak terasa para orang tua menjadikan anak-anaknya sebagai aset dan bukan lagi sebagai sebuah amanah. Maka berlomba-lombalah berinvestasi pada sang anak dengan membekali segala macam kepandaian. Hal tersebut tentu saja bukanlah sesuatu yang salah. Bukankah Rosulullah juga mengajarkan pada kita untuk membekali anak dengan berbagai ketangkasan dari mulai berenang, memanah, dan menunggang kuda. Namun seringkali dikemudian hari sang orang tua yang memandang anaknya sebagai aset tersebut menggenggamnya kuat-kuat. Seakan ingin berkata inilah asetku, inilah barangku, inilah milikku. Sehingga seringkali ketika sang anak ingin mencoba mandiri timbul kekhawatiran asetnya tersebut akan hilang. Apalagi ketika sang anak mencoba membangun peradabannya sendiri dengan share bersama individu lain kembali kekhawatirannya merangkak naik. Mengapa asetku mesti di share dengan orang lain?. Bukankah aku yang menanam investasi pada asetku dengan susah payah, aku yang melahirkan dengan darah dan air mata maka hanya akulah "the only one" yang berhak atas semua perhatian dari asetku itu.

     Lalu apakah contoh yang diberikan sang Ibu dari Pare-Pare itu? Jawabnya adalah," Keikhlasan saya dalam membesarkan anak-anak adalah ketika saya tidak pernah berpikir gantinya dan anak saya akan membalas jasa saya". Dialah yang bisa mengartikan bahwa anak adalah amanah. Karena amanah bukanlah aset. Amanah hanya bisa dihantarkan tapi tidak bisa dimiliki.

    Tiba-tiba tak terasa mata saya sudah tergenang air. Ya Allah agaknya tak berlebihan jika keikhlasan itu adalah bak taman bunga di hati. Mungkin Engkau telah menghadirkan Khadijah modern ini untuk diteladani. Ya Allah aku hanya bisa berdoa moga keikhlasannya terciprat meski sedikit saja ke dalam hati ini. Hingga ketika hari tua menjelang saya akan berkata,"Genggamlah hidupmu Nak, ibu di belakangmu dan selalu menghantarmu dengan doa". Dan saat itu pula tertunailah menjalankan amanah dari-Nya untuk menghantarkan sang anak menjadi generasi Insan Kamil. Bisakah?