Film Da Vinci Code
Tuesday, May 23rd, 2006 Minggu kemaren aku dan si Ayah pergi nonton film Da Vinci Code di Cinemax. Cinemax sendiri selalu menyediakan film-film original yang tidak didubbing ke dalam bahasa Jerman. Di Jerman memang hampir semua film di dubbing ke dalam bahasa lokal sebelum dilempar ke pasaran. Maklum kemampuan bahasa Jerman kami masih pas-pas an. Dengan demikian kami kesulitan untuk mengikuti jalan cerita sebuah film yang seringkali dialognya cepat kecuali mungkin film anak-anak. Kebetulan ada salah seorang teman yang bersedia dititipi Adna dan untungnya Adna senang-senang saja di sana karena bisa bermain dengan teman sebaya.
Saat itu memang baru hari kedua film itu ditayangkan di bioskop sehingga tak heran untuk membeli tiketnya terjadi antrean sangat panjang. Dan gedungnya penuh sesak, untung saja satu jam sebelum film dimulai ruangan sudah dibuka sehingga kerumunan orang-orang berpindah ke dalam dan tidak menimbulkan desakan-desakan terlampau lama. Yah meski di dalam kami baru bisa menyaksikan iklan-iklan tapi lumayan bisa duduk sambil menikmati satu kotak Nachos dengan saus keju dan cabe latin yang pedes asem itu.
Da vinci code yang bertutur tentang pemecahan rahasia Holy Grail benar-benar mirip dengan apa yang sudah ditulis di novel, meski ada sedikit adaptasi untuk menyingkat waktu. Aku sendiri sudah membaca novel karangan Dan Brown itu meski belum tamat semua. Terlepas dari kontroversi dimana disebutkan bahwa Nabi Isa (Jesus) menikah dan memiliki keturunan (aku sama sekali tidak setuju) penggarapan film ini lumayan bagus. Apalagi mengingat aktingnya Tom Hanks yang cukup memikat. Sisi lain film ini mengupas habis cukilan-cukilan sejarah kristen di Eropa yang terpahat di gereja-gereja yang tersebar di seluruh daratan eropa. Di sini memang aku lihat objek wisata orang eropa mayoritas terbagi 3 : Gereja, Kastil, dan profil alamnya. Biasanya film-film Hollywood selalu menceritakan tentang arkeologi di Piramid Mesir namun kali ini simbol-simbol gereja yang mereka bahas.
Dan Brown yang seorang guru sekolah menengah di Amerika sempat diwawancarai tentang keberanian ide ceritanya itu yang membuat geram terutama umat kristiani. Dia bilang bahwa dia sama sekali bukan bermaksud anti krsitiani ini hanya sebuah fiksi yang kebetulan ada fakta-fakta yang melatarbelakanginya. Fakta ini antara lain sebuah komunitas rahasia Eropa (The Priory of Sion) yang didirikan tahun 1099 dan beranggotakan Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Leonardo Da Vinci. Kemudian fakta lain adalah salah satu sekte katholik, Opus Dei, yang bermarkas di New York, dikabarkan sering menghalalkan tindak kekerasan dan pencuci otak-kan. Dan Brown sendiri menjamin bahwa semua dokumen maupun relief-relief yang diceritakan dalam novelnya adalah nyata.
Fakta-fakta yang Dan Brown sebutkan mungkin memang nyata, namun dari kumpulan fakta-fakta itu yang kemudian ditarik menjadi suatu alur cerita dan kesimpulan dapat mengakibatkan deviasi yang cukup besar manakala ada fakta-fakta sejarah lain yang tidak lengkap. Ibaratnya dia ingin merangkai rantai emas namun ada beberapa mata rantai yang hilang kemudian atas nama imaginasi dipaksakan diganti oleh mata rantai tembaga. Dan Brown sendiri menginginkan dengan novelnya tersebut merangsang dialog yang lebih dalam lagi terutama tentang Agama Kristiani.
Sehingga barangsiapa yang ingin tahu atau tergelitik lebih serius tentang sejarah gereja dan agama kristen di Eropa tidak ada salahnya jika mau bersusah-susah membuka buku-buku atau dokumen-dokumen di perpustakaan yang tersebar di Eropa. Temukan mata rantai yang hilang itu dan katakan bahwa kesimpulan Dan Brown salah tentang Holy Grail. Lagi-lagi mungkin Dan Brown akan berkilah, "Loh ini kan sekedar fiksi"!. Atas nama kebebasan berpikir dan berpendapat tak ada seorang pun yang bisa mencegahnya kecuali gunakan kebebasan berpikir yang lain untuk menghadangnya.