Archive for June, 2006

Kenangan tentang wanita itu

Saturday, June 17th, 2006

        Kala itu di tahun 1995 saat hari-hari pertama menginjakkan kaki di kampus bumi Ganesha. Bandung, tentu saja adalah kota yang paling asing bagiku. Bagaimana pun meski kota ini masih berada di pulau jawa namun tak ada seorang sanak saudara pun di sana. Pertamakali aku ngekost di daerah Kebun Kelapa karena ada kenalan saudaraku yang tinggal di sana. Padahal daerah ini jauh sekali dari Kampus.
        Salah seorang teman seangkatanku, Enung kala itu mendapat tumpangan kos-kosan di daerah Cisitu Baru yng tentu saja karena letaknya dekat dengan kampus aku sering mampir kesana. Kadang numpang sholat atau sekedar membuka bekal makanan. Disitulah aku berkenalan dengan seorang ‘mbak’ yang pembawaannya lembut, ramah, dan bersahaja. Dialah yang dengan kebaikan hatinya memberikan tumpangan kepada Enung. Kamar kos-kosannya sangat nyaman dengan sebuah meja gambar besar dan rak-rak buku yang sarat dengan buku-buku baik buku bertemakan akademis maupun buku agama. Kos-kosannya juga bersih dan memang bukan kelas kacangan. Dari kondisi kamarnya aku langsung merasakan hawa religius yang begitu kental.
          Pertama kali dia tersenyum sambil menyebut namanya, " Anik!", ucapnya singkat. Dan kami mengobrol layaknya sudah saling mengenal lama. Rupanya dia sedang kuliah di Arsitektur angkatan 93, namun dia sempat bilang bahwa sebentar lagi dia akan pindah jurusan ke Planologi. Saat aku melihat banyak obat-obatan di kamarnya aku menanyakan apakah orang tuanya seorang dokter. Dia mengiyakan. Dan ia bilang juga bahwa orang tuanya sekarang di Boyolali. Oh, orang Boyolali tho…seruku dalam hati.
           Setelah hampir satu bulan menjadi mahasiswa ITB, aku dan Enung sepakat untuk mencari kos-kosan bareng. Tentu saja aku juga makin sering mampir ke sana dan bertemu dengan Mbak Anik. Kadang kala aku terlibat juga diskusi-diskusi yang lebih intens tentang Islam. Dari sana aku tahu bahwa Mbak Anik aktivis dakwah di kampus maupun di Masjid Salman. AKu masih terkesan dengan kecerdasan dan alur pikirannnya yang logis di balik kelemahlembutan seorang wanita jawa.
Sempat juga aku berniat belajar Islam lebih dalam padanya. Dan ketika ia tahu niatku dia bersedia membukanya dengan ngobrol sana-sini ala brainstroming. Namun aku tak ingat lagi kenapa kegiatan itu tak aku lanjutkan.
         Akhirnya aku dan Enung menemukan kos baru di daerah Cisitu lama. Dan setelah itu aku kembali jarang bertemu dengannya. Apalagi ketika aku pindah ke kosan lain, tapi aku masih terkadang mendengar kabar dia dari Enung. Misalnya ketika dia akhirnya pindah jurusan ke Planologi. Dan kemudian menikah. Kabarnya dia menikah dengan salah seorang aktivis masjid Salman.
        Di suatu hari yang terik, tak dinyana aku bertemu lagi dengan Mbak Anik yang sedang menggendong seorang bayi dengan kain. Wajahnya tampak lelah. AKu kaget dan langsung kujabat tangannya. "Selamat ya MBak, udah punya anak…! seruku. "Anaknya laki-laki apa perempuan?" kembali aku bertanya. Dia menjawab sambil tersenyum, "Laki-laki". Selebihnya aku tak ingat lagi apa yang aku perbincangkan dengannya.
        Hari-berganti hari ,tahun berganti tahun, mungkin setelah 6 tahun kemudian milis-milis, koran,dan semua media dikejutkan dengan kasus tragis pembunuhan seorang ibu terhadap ketiga anaknya. Kebetulan sang suami, Iman Abdullah, adalah salah seorang kenalan dekat suamiku. Sejak hari jumat berita duka telah tersebar di milis. Rasanya hati ini ikut menangis manakala melihat gambar di koran sang ayah sedang menyolatkan tiga jenasah anaknya yang digeletakkan begitu saja di atas lantai karpet Masjid. Apalagi pertamakali kabar berhembus kemungkinan meninggal karena keracunan. Betapa goncangan dahsyatnya cobaan itu seakan menjalar pada kami. Sehingga tak henti-hentinya kami memantau stiap berita dari detik ke detik.
        Namun perkembangan berita ternyata sungguh di luar dugaan. Anak-anak itu meninggal karena perbuatan ibundanya sendiri yang bernama Anik Qoriah. Semula aku sama sekali tak mengenal siapa itu Anik Qoriah alias Ny AKS, namun ketika aku baca profilnya, betapa jiwa ini tersentak kaget, bukankah ini profil Mbak Anik, seorang wanita lembut yang aku kenal dulu.
        Hari ini aku kembali melihat wajahnya di televisi SCTV lewat internet. Meski pipinya tampak lebih besar aku masih bisa mengenal wajahnya dengan baik. Yah dialah Mbak Anik yang aku kenal dulu.
       Ya Allah, ampunilah dia Ya Allah. Berikan dia kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian berat yang menimpanya. Demikian pula berikan ketegaran dan pahala yang setimpal pada suaminya yang tampak tabah menghadapi segalanya. Ya Allah untuk anak-anak yang sudah menghadap-Mu berikanlah mereka rumah yang luas dan kelak menjadi pelindung orangtuanya di akhirat.

Geliat Piala Dunia

Saturday, June 3rd, 2006

     Piala dunia makin dekat, kurang dari seminggu pagelaran akbar persepakbolaan dunia akan dibuka di Stadion sepakbola Allianz Arena, Munich, Germany. Rasanya baru kemaren aku melihat lapangan stadion ini yang semula kosong kemudian berangsur-angsur dibangun kerangkanya hingga jadi komplet sekarang. Masih segar dalam kepala ini bagaimana sulitnya membangun sebuah stadion supermodern ini.  Aku yang kebetulan dulu kuliah di TU-Garching selalu tiap pagi lewat stadion ini. U-bahn jurusan Garching memang berhenti dulu di Frötmanning yang kebetulan dari situ Stadion segede itu kelihatan dengan jelasnya. Tentu saja kesulitan ini terciprat pada para penumpang kereta api jurusan Garching-Höchbrück. U-bahn jalur U6 adalah satu-satunya U-bahn yang berjalan di atas tanah ketika mulai mendekati stadion. Karena pembangunan stadion tersebut U6 tidak bisa langsung ke Garching, melainkan berhenti dulu di Frötmanning. Padahal nanggung banget tinggal satu halte. Dan nunggunya kira-kira bisa 10-20 menit untuk kereta berikutnya. DI musim dingin tentu saja sangat menyiksa. Apalagi aku membawa anak kecil, si Adna.
       Tapi untungnya pihak perusahaan transportasi Munich (MVV) dan kontraktor Allianz Arena sungkan untuk menambah penderitaan para penumpang yaitu dengan menetapkan jadwal kerja di weekend dan jam-jam malam. Aku gak kebayang mereka kejam juga dengan para pekerja bangunannya. Masak mereka bekerja juga malam hingga dinihari. Di musim dingin tentu saja hal ini sangat menyiksa. Moga-moga saja kompensasinya tak tanggung-tanggung. Dengan demikian terganggunya U-Bahn  jurusan Garching hanya di weekend dan jam-jam malam saja. Meski sampai hampir dua tahun aku masih harus berganti kereta di stasiun Fötmanning.
         Geliat piala dunia makin hari makin semarak. Dulu hanya sekedar souvenir dan pernik-pernik suporter saja yang bertebaran. Lama-lama mulai dibangun layar-layar lebar di lapangan terbuka untuk para penikmat sepakbola yang kebetulan tidak beruntung menonton acara secara live. Tapi bagusnya tiket dijual lewat internet jauh-jauh hari. Sehingga gak akan terjadi deh yang namanya antri-antrian panjang,, apalagi ditambah jotos-jotosan kalau kehabisan. Menurut salah seorang rekan Jerman, tiket 30% di berikan kepada pihak sponsor yaitu perusahaan-perusahaan besar yang mungkin digunakan untuk karyawannya atau bisa juga sebagai ajang lobi bisnisnya. SEdangkan sisanya disebar luas untuk dipesan. SEorang teman yang orang Indonesia pernah memesan tiket hingga 1900 euro. Ternyata memesan belum tentu dapat, karena tiket ini masih diundi lagi. Dan sayangnya teman saya tersebut tak mendapatkan satupun. Si pemenangnya akan dikirimin via pos tiket-tiket itu. Maka mungkin tak mengherankan kalau barangsiapa yang beruntung mendapatkan tiket ini akan niat sekali dalam menonton. Mungkin semua aksesoris kesebelasannya itu dipakai semua, termasuk mencoret-coret mukanya yang ternyata memang dijual bak kacang goreng kosmetik suporter ini di supermarket-supermarket. Jikapun ada yang ingin mengambil keuntungan mungkin tiket-tiket itu dijual lagi ke orang lain (semacam calo) dengan harga yang tentu saja berlipat-lipat.
        Geliat sepakbola tak hanya dirasakan oleh orang dewasa, namun juga anak-anak. Kue-kue maupun coklat-coklat semuanya bertemakan bola. Perpustakaan dekat rumah juga menggantung-gantung gambar pemain sepakbola Jerman yang dihiasi meriah dengan kertas krep. Mereka punya kllub sendiri menyambut Piala Dunia (Welt Master). ADa juga turnamen-turnamen antar anak sekolah dan pagelaran pasar seni gratis untuk anak-anak sedunia. Wah, jadi gak sabaran nih ingin melihat suasana piala dunia langsung. Sampai ketemu di sekilas pandang piala dunia jika bukan nonton langsung paling enggak nonton penontonnya dan tentu saja suasana.