Archive for July, 2006

Sakit jantung?

Saturday, July 29th, 2006

    Ah, tentu saja moga-moga enggak. Aneh memang perasaan sejak hamil kedua selalu aja ada yang serba gak enak. Dari mulai sering eneg-eneg terus muntah bahkan sampai umur 18 minggu ini, si eneg masih kadang muncul. Belum lagi sakit punggung dan tulang ekor. Nah yang bikin rada khawatir adalah munculnya gejala sesak napas tiba-tiba. Terutama kalau kecapekan atau udara yang terlalu panas di tempat yang ventilasinya kurang. Mungkin sebetulnya wajar aja kali ya.

    Apalagi mengingat sekarang kerja jantung makin keras karena harus memompa jantung bagi 2 individu. Tapi emang pernah sih suatu hari mendapat serangan sesak nafas yang parah. PAdahal pas lagi bengeknya gak kambuh. Kejadiannya dua hari setelah memakai obat anti mual yang diberikan oleh dokter. Sepertinya gak ada hubungannya, dan pas nanya ke dokter lewat telpon, beliau juga meyakinkan bahwa itu bukan karena si obat anti mual itu. Waktu itu rasanya memang benar-benar mau pinsan. Disangkain karena kurang menghirup udara segar, kita malah jalan-jalan ke MArientplazt. Baru 15 menit udah pulang lagi karena sesak nafasnya gak berkurang.

      Pas ke DSOG lagi dia nanyain keluhan-keluhanku, yah udah aku jawab aja, suka sesek nafas. Tapi sudah aku tekankan sih bahwa sejauh ini sesak nafasnya gak terlalu parah lagi. Paling hanya terjadi selama 5-10 menit saja. Tapi DSOG-nya jadi panik, apalagi pas aku bilang bahwa aku juga jadi cepet lelah. Saat itu juga dia panggil suster untuk periksa HB-ku. Sampil diambil darah si dokter tetap mendampingi dan langsung dilihat hasilnya, ternyata HBku normal aja tuh.

     So, akhirnya si dokter mengirim aku pada seorang Kardiolog. SEtelah bikin janji dengan resepsionis sang dokter lewat telpon, aku datang seminggu kemudian. Pas datang itu kebetulan aku baru sakit flu sejak 3 hari yang lalu. dan baru 3 hari yang lalu pula si bengek datang hingga sesek nafas dan bunyi ngik-ngik. Tapi waktu itu aku males banget pergi ke dokter hausarzt (semacam dokter umum pribadi). Emang di jerman ini urusan sakit bisa jadi ribet. Pertama seharusnya ketika kita sakit, harus datang ke dokter hausarzt itu. Nanti dia yang akan memeriksa, kalau bisa ia tangani sendiri tapi kalau ada suatu kejadian khusus maka dia akan mengirim kita ke dokter-dokter spesialis. Begitu pula jika kira hamil dan datang ke spesialis kandungan, maka si dokter spesialis kandungan itu akan mengirim surat lapor ke dokter hausarzt kita. Nah ini kadang kala suka bikin males, jadilah si surat lapor itu masih ada di rumah, gak dikasihkan ke hausarzt. Jadi seharusnya pula yg mengirim aku ke kardiolog itu hausarzt. Berhubung aku males kesana, akhirnya si dokter DSOG itu yang mengirim.

      Sampai tempat praktek dokter kardiolog sudah menunggu banyak pasien. Dan lucunya semua pasien sudah nenek-nenek dan kakek-kakek semua. Di sana sebelum bertemu dokter aku ditangani seorang suster untuk dipasangi alat EKG. Dimana banyak sekali elektroda yang ditempelkan di kaki dan sekitar dada. Aku jadi inget pelajaran BIomedik saat kuliah dulu. Tapi yah berhubung sudah lupa, aku pasrah saja diperiksa begitu. Hasilnya kemudian diserahkan ke dokter. Jadi pas aku dipanggil dengan si dokter itu dan masuk ke ruangan prakteknya dia mulai melakukan observasi dengan nanya ini itu. Kata dia emang dari hasil EKG tersebut ada pulsa-pulsa yang tinggi. PAs dia periksa kebetulan lagi banyak lendir di paru-paru. Aku bilang bahwa aku juga punya penyakit asma-bronkitis. Dan sesak nafasku bisa juga kemungkinan karena penyakit itu. Tapi si dokter masih terus nanya-nanya dari mulai gimana dulu waktu hamil pertama, apakah ada komplikasi. Di keluarga ada keturunan sakit jantung apa enggak, tekanan darahnya tinggi apa enggak, dsb. Dan kujawab, enggak…semua.

       Karena masih penasaran, sang dokter mulai memeriksa lagi pakai alat sonogram. Dimana bunyi detak jantung kita terdengar jelas dari komputer. Pokoknya aku disuruh tarik nafas dan dihembuskan lagi kemudian ditahan beberapa detik. Terus masih ada pemeriksaan kelenjar tiroid di leher yang menggunakan sensor-sensor juga. KAta dia ada kemungkinan ketidak beresan kelenjar tiroid memacu kerja jantung yang berlebihan. Terakhir aku kembali diperiksa darah dan kemudian dipasangi elektroda-elektroda di sekitar dada kiri. Kemudian digantungi alat perekam denyut jantung yang dikalungkan ke leher. Aku diminta untuk tetap memakainya hingga keesokan hari. PAdahal hari itu juga aku sudah siap-siap berangkat camping. Untung saja suster bilang bahwa aku masih bisa melakukan aktivitas biasa, gak harus berbaring saja.

        Jadilah aku camping dengan elektroda-elektroda yang masih nempel itu. Untung camping di sini tridak perlu banyak mengeluarkan tenaga. Pergi pake mobil hingga ke lokasi kaplingnya. Terus mendirikan tenda juga gak perlu susah-susah kayak jama pramuka dulu. Tinggal memasukkan kawat fiber di parasut tenda yang sudah disediakan jalur-jalurnya. Jadi deh, tinggal dipantek ke tanah. Itu pun kaum bapak yang melakukan. Terus makan-makan sebentar dan tidur deh. Malem itu kebetulan aku gak bisa tidur sedikit pun. Tapi untung kondisi tubuh terasa fit-fit saja. Sampai pagi menjelang dan elektroda-elektroda itu bisa dicopot, aku bisa mandi lagi. Wah segar sekali, karena kebetulan udara waktu itu panas banget.

      Untuk hasil dari alat rekam itu katanya akan dikirim langsung ke dokter DSOG sebagai dokter yang mengirimku. Tapi untung sejak diperiksa itu, si sesek nafas udah jarang-jarang banget datang. AH, moga-moga itu hanya bawaan bayi…!

Berburu souvenir world cup

Monday, July 10th, 2006

     Selesai sudah perhelatan akbar 4 tahunan, World Cup, setelah sebulan mengharu biru manusia di muka bumi ini. The Final Times bahkan dalam suatu artikelnya pernah membahas adakah bagian di bumi ini yang ‘imun’ alias tidak terjangkau oleh gegap gempitanya World Cup?. Mereka mengasumsikan, mungkin Indonesia. Eh tapi asumsi mereka patah oleh fakta yang mereka temukan sendiri bahwa justru publik Indonesia sangat heboh menyaksikan World Cup. Bahkan ketika World Cup tahun 2002, penonton yang menonton live di Istora Senayan Jakarta jauh lebih banyak daripada yang menonton di stadion Yokohama. Wah emang kalau soal heboh, Indonesia jagonya.

      Aku sendiri sangat menikmati ajang ini, seperti yang kutulis di blog-ku yang lain (http://
www.laterne.blogspot.com). Dan satu hal yang menarik dari sisi World Cup itu adalah memburu souvenir. Beberapa orang kawan rela membeli kaos kesebelasan bola (Trikot) lebih dari satu macam. Padahal mungkin harga satu Trikot ini sebanding dengan harga 3 T-Shirt   di Esprit atau 1,5 kali T-Shirt bergambar buaya (LAcoste). 

      Belum cukup dengan Trikotnya bahkan mereka juga menambahkan dengan sablonan nama-nama bintang  kesayangan yang rupanya telah menjadi komoditi bisnis baru di ajang per-kaosan. Jadi bagi yang berminat untuk menambahkan nama dan nomor bintang kesayangan maka dikenai biaya ekstra. Seorang kawan lagi bahkan sampai sangat jeli memperhatikan apakah sablonannya bagus apa tidak, mendekati aslinya apa tdak. Maklum menurutnya sablonan asli itu hanya dikeluarkan oleh pabrik-pabrik kaos yang official. Seperti trikot Jerman, maka yang mengeluarkan sablon asli adalah Adidas dan trikot Brazil adalah Nike atau trikot Inggris Umbro, dst. Dari survey dia sablonan tiruan oleh mal-mal itu yang mendekati asli hanyalah sablonan yang berwarna hitam. Tapi tidak untuk warna lain.

       Dia berusaha membuat sablon untuk trikot kesayangannya yaitu Brasil dengan nama Kaka. Tapi sayangnya setelah muter-muter kesana kemari semua sablonan yang ditawarkan oleh mal meski berwarna hijau seperti aslinya, tapi mal itu tidak menyediakan huruf ‘a’ coret sebagaimana nama Kaka yang asli mengandung karakter huruf ‘a’ coret di akhirnya. Tentu saja dia tidak puas, setelah tanya sana sini jika dia mau yang asli maka harus ke sablonan asli Nike. Akhirnya dia menyerah dan urung untuk memberikan nama Kaka. Tapi ketika dia ingin menyablon trikot Inggrisnya dengan tulisan Beckham no 7-nya itu dia pantang mundur. DIa cari betul-betul sablonan asli dari Umbro yang berwarna emas. Dan tentu saja harganya jauh lebih mahal dibandingkan sablonan mal.

       Tiap-tiap orang memang berbeda dalam menyikapi World Cup ini. Ada yang berhenti sekedar ajang tontonan namun ada juga yang ingin mengenangnya dalam wujud barang. Apalagi ketika World Cup itu diselenggarakan di negara tempat kita tinggal mungkin keinginan untuk merekamnya jauh lebih kuat. Meskipun tidak semua orang demikian. Aku pribadi memandang ini bukan hanya sekedar ajang tontonan tapi juga ajang sejarah. Betapa dulu aku pernah melihat seseorang memakai tas bergambar Burung Kakaktua yang merupakan mascot World Cup di Mexico (wah lupa tahunnya, tapi sudah lama sekali), rasanya turut senang. Juga ketika seorang teman yang tinggal di Jepang memakai gantungan kunci mascot World Cup tahun 2002. Kenangan hebohnya menonton pertandingan demi pertandingan kembali menyapa.

        Tapi memang untuk itu ukuran kocek perlu diperhatikan. Kadang upaya menunggu barang-barang tersebut di sale cukup untuk mendapatkan souvenir dengan harga miring. Karena memang souvenir-souvenir ini menjadi jauh lebih mahal untuk ukuran kelasnya. Semisal boneka Goleo atau gantungan kuncinya berharga 2 kali lipat untuk barang yang sekelas namun bukan Mascot World Cup. Nah di akhir-akhir ini barang-barang itu sudah turun ke harga aslinya. Sehingga mungkin tidak begitu rugi jika kita hendak mengkoleksinya. Begitu pun trikot-trikot yang dibanting harganya menjadi 50%. Tapi jangan salah ternyata untuk negara-negara Eropa trikotnya masih belum terlalu dibanting mengingat pertandingan Piala Eropa tahun 2010 masih ada. Dan tentu saja trikot ini masih dipakai.

     Souvenir World Cup memang banyak sekali ragamnya. Dari mulai tas, payung, boneka, sepatu, koos kaki, dan masih banyak lagi barang-barang kecil. Tapi yang menarik adalah bolanya itu sendiri. Karena bola ukuran standar ini memang bisa dimanfaatkan untuk bermain bola. Tapi mengingat di rumah tidak ada yang suka bermain bola maka mengkoleksi puzzlenya yang kecil dan bulat itu cukup memuaskan juga.

     Nah ya, silahkan yang hendak mengkoleksi souvenir bola….mungkin kelak bisa jadi memori tersendiri buat anak cucu bahwa kita pernah mengalami masa itu. Saya sendiri pernah heran ketika datang ke Berlin ada pedagang souvenir yang menjual bongkahan-bongkahan tembok Berlin yang sudah menjadi kepingan-kepingan kecil. Wah-wah disinilah sebuah barang souvenir betul-betul memainkan peranan subjektivitasnya.