Berburu souvenir world cup

     Selesai sudah perhelatan akbar 4 tahunan, World Cup, setelah sebulan mengharu biru manusia di muka bumi ini. The Final Times bahkan dalam suatu artikelnya pernah membahas adakah bagian di bumi ini yang ‘imun’ alias tidak terjangkau oleh gegap gempitanya World Cup?. Mereka mengasumsikan, mungkin Indonesia. Eh tapi asumsi mereka patah oleh fakta yang mereka temukan sendiri bahwa justru publik Indonesia sangat heboh menyaksikan World Cup. Bahkan ketika World Cup tahun 2002, penonton yang menonton live di Istora Senayan Jakarta jauh lebih banyak daripada yang menonton di stadion Yokohama. Wah emang kalau soal heboh, Indonesia jagonya.

      Aku sendiri sangat menikmati ajang ini, seperti yang kutulis di blog-ku yang lain (http://
www.laterne.blogspot.com). Dan satu hal yang menarik dari sisi World Cup itu adalah memburu souvenir. Beberapa orang kawan rela membeli kaos kesebelasan bola (Trikot) lebih dari satu macam. Padahal mungkin harga satu Trikot ini sebanding dengan harga 3 T-Shirt   di Esprit atau 1,5 kali T-Shirt bergambar buaya (LAcoste). 

      Belum cukup dengan Trikotnya bahkan mereka juga menambahkan dengan sablonan nama-nama bintang  kesayangan yang rupanya telah menjadi komoditi bisnis baru di ajang per-kaosan. Jadi bagi yang berminat untuk menambahkan nama dan nomor bintang kesayangan maka dikenai biaya ekstra. Seorang kawan lagi bahkan sampai sangat jeli memperhatikan apakah sablonannya bagus apa tidak, mendekati aslinya apa tdak. Maklum menurutnya sablonan asli itu hanya dikeluarkan oleh pabrik-pabrik kaos yang official. Seperti trikot Jerman, maka yang mengeluarkan sablon asli adalah Adidas dan trikot Brazil adalah Nike atau trikot Inggris Umbro, dst. Dari survey dia sablonan tiruan oleh mal-mal itu yang mendekati asli hanyalah sablonan yang berwarna hitam. Tapi tidak untuk warna lain.

       Dia berusaha membuat sablon untuk trikot kesayangannya yaitu Brasil dengan nama Kaka. Tapi sayangnya setelah muter-muter kesana kemari semua sablonan yang ditawarkan oleh mal meski berwarna hijau seperti aslinya, tapi mal itu tidak menyediakan huruf ‘a’ coret sebagaimana nama Kaka yang asli mengandung karakter huruf ‘a’ coret di akhirnya. Tentu saja dia tidak puas, setelah tanya sana sini jika dia mau yang asli maka harus ke sablonan asli Nike. Akhirnya dia menyerah dan urung untuk memberikan nama Kaka. Tapi ketika dia ingin menyablon trikot Inggrisnya dengan tulisan Beckham no 7-nya itu dia pantang mundur. DIa cari betul-betul sablonan asli dari Umbro yang berwarna emas. Dan tentu saja harganya jauh lebih mahal dibandingkan sablonan mal.

       Tiap-tiap orang memang berbeda dalam menyikapi World Cup ini. Ada yang berhenti sekedar ajang tontonan namun ada juga yang ingin mengenangnya dalam wujud barang. Apalagi ketika World Cup itu diselenggarakan di negara tempat kita tinggal mungkin keinginan untuk merekamnya jauh lebih kuat. Meskipun tidak semua orang demikian. Aku pribadi memandang ini bukan hanya sekedar ajang tontonan tapi juga ajang sejarah. Betapa dulu aku pernah melihat seseorang memakai tas bergambar Burung Kakaktua yang merupakan mascot World Cup di Mexico (wah lupa tahunnya, tapi sudah lama sekali), rasanya turut senang. Juga ketika seorang teman yang tinggal di Jepang memakai gantungan kunci mascot World Cup tahun 2002. Kenangan hebohnya menonton pertandingan demi pertandingan kembali menyapa.

        Tapi memang untuk itu ukuran kocek perlu diperhatikan. Kadang upaya menunggu barang-barang tersebut di sale cukup untuk mendapatkan souvenir dengan harga miring. Karena memang souvenir-souvenir ini menjadi jauh lebih mahal untuk ukuran kelasnya. Semisal boneka Goleo atau gantungan kuncinya berharga 2 kali lipat untuk barang yang sekelas namun bukan Mascot World Cup. Nah di akhir-akhir ini barang-barang itu sudah turun ke harga aslinya. Sehingga mungkin tidak begitu rugi jika kita hendak mengkoleksinya. Begitu pun trikot-trikot yang dibanting harganya menjadi 50%. Tapi jangan salah ternyata untuk negara-negara Eropa trikotnya masih belum terlalu dibanting mengingat pertandingan Piala Eropa tahun 2010 masih ada. Dan tentu saja trikot ini masih dipakai.

     Souvenir World Cup memang banyak sekali ragamnya. Dari mulai tas, payung, boneka, sepatu, koos kaki, dan masih banyak lagi barang-barang kecil. Tapi yang menarik adalah bolanya itu sendiri. Karena bola ukuran standar ini memang bisa dimanfaatkan untuk bermain bola. Tapi mengingat di rumah tidak ada yang suka bermain bola maka mengkoleksi puzzlenya yang kecil dan bulat itu cukup memuaskan juga.

     Nah ya, silahkan yang hendak mengkoleksi souvenir bola….mungkin kelak bisa jadi memori tersendiri buat anak cucu bahwa kita pernah mengalami masa itu. Saya sendiri pernah heran ketika datang ke Berlin ada pedagang souvenir yang menjual bongkahan-bongkahan tembok Berlin yang sudah menjadi kepingan-kepingan kecil. Wah-wah disinilah sebuah barang souvenir betul-betul memainkan peranan subjektivitasnya.

Leave a Reply