Berenang
Berenang di musim panas tentu saja menyenangkan. Makanya begitu memasuki musim panas, aku dan adna bersiap-siap untuk pergi berenang. Tapi awal-awal musim panas yang ternyata menyengat sekali seringkali malah menghalangi langkah kaki untuk pergi ke kolam renang. Ada saja alasannya, entah itu kebetulan aku sakit flu (flu musim panas tak kalah parahnya dengan flu musim dingin), Adna sakit karena imunisasi, atau tiba-tiba hujan.
Akhirnya setelah benar-benar tidak ada halangan, sudah sejak 3 minggu lalu kami pergi ke kolam renang di dekat rumah. Dengan bus hanya ditempuh selama 6 menit terus disambung jalan kaki sekitar 15 menit. Kebetulan di kolam renang itu selalu disediakan waktu setiap hari Rabu jam 15.00-20.00 khusus untuk perempuan. Wah jadi renangnya benar-benar menyenangkan. Paling enggak kita merasa tidak was-was ketika harus memakai baju renang.
Sebetulnya aku punya juga baju renang muslim yang waktu itu aku pikir bisa aku pakai saat berenang di kolam renang umum. Dan pernah aku pakai, walhasil banyak orang yang ngelihatin dan berpandangan aneh. Tadinya aku mah cuek-cuek aja dengan baju renang ala baju selam itu. Tapi ketika ada orang yang bisik-bisik dan kedengeran aku, mereka bilang…"Hmm…apa gak kepanasan dan kedinginan tuh…!". Eh pas aku pikir-pikir emang pertama kali ketika aku pakai wah bener-bener panas. Memang kebetulan waktu itu cuaca memang lagi panas-panasnya. Terus waktu nyemplung ke kolam sih gak papa…tapi begitu mentas ke darat lagi..brrr..jadi dingin yak!. Maklum angin sepoi-sepoi menerpa badan yang terbalut baju basah kan jadi menggigil. Waduh pantesan kenapa baju renang dibuat seminim mungkin pertama untuk menghindari kepanasan sebelum nyemplung kolam dan yang kedua gak kedinginan, krn begitu mentas bisa langsung ditutupin handuk.
Akhirnya yah yang paling nyaman memang berenang di kolam tertutup dan hanya pas jam khusus untuk perempuan. Nah, ternyata kesempatan ini memang tak disia-siakan banyak wanita muslim. Banyak juga mereka yang berasal dari Turki dan negara-negara Arab yang datang. Tak lupa mereka juga sepertiku membawa anak-anak mereka. Bahkan ada yang baru usia sebulan juga dibawa.
Tak heran karena ini kesempatan langka maka setiap hari Rabu, kolam itu kebanjiran pengunjung. Pengunjungnya bahkan meningkat 300% dibandingkan hari-hari biasa. Dan waktu itu sempat dibahas akan diadakan hari tambahan di hari minggu juga meski hanya sebulan sekali atau dua kali. Tapi sayangnya sampai hari ini tambahan hari itu tak pernah terwujud.
Tapi memang para petugas kolam renang yang juga para wanita ( dari yang jual karcis, tukang bersih-bersih, sampai life-guardnya) kadang merasa kewalahan dan pusing tujuh keliling manakala datang hari Rabu. Betapa tidak para pengunjung yang rata-rata membawa anak balita itu terkadang kelupaan meninggalkan sampah diapers dimana-mana. Belum lagi budaya para pengunjung ini lain dibandingkan dengan pengunjung biasa yang orang Jerman. Mereka bawa-bawa makanan berat, cemilan, sampai termos-termos minum ke kolam renang. Dan ajang piknik pun berlangsung di tempat makannya. Tentu saja pengunjung yang banyak dan makan makanan berat seringkali mengotori lantai. Banyak remah-remahan kue dan juga roti berserakan.
Sedangkan pengunjung Jerman, biasanya hanya membawa selembar roti isi daging asap dan buah-buahan yang mereka makan di dekat kolam. Tempat makan yang disediakan biasanya hanya digunakan untuk minum-minum kopi yang memang disediakan oleh kantin. Jadi memang relatif tidak begitu meninggalkan jejak kotoran dan si petugas bersih-bersih tak harus berkeringat membersihkannya.
Belum lagi pengunjung Jerman dikenal memang praktis. Mereka bisa saja langsung berganti pakaian di luar kamar ganti. Sehingga tak perlu berebutan atau ngantri kamar mandi. Belum lagi banyak juga diantara mereka yang setelah berenang tak harus mengeringkan rambut bahkan masih basah-basah dan kelihatan belum tersisir rapi sudah keluar. Sedangkan kami-kami mesti harus berganti pakaian di dalam kamar ganti, belum lagi mengeringkan rambut plus menyisisirnya sebelum dibalut kain kerudung. Walhasil memang keadaan jadi heboh.
Jika dilihat dari kas penghasilan mungkin memang meningkat tajam, tapi jika harus dibayar kestressan para petugas mungkin hal ini yang menjadi ganjalan mereka untuk menambah jam renang perempuan. Namun beberapa hari yang lalu aku sempat baca berita bahwa ada seorang pengusaha Itali yang akan membuka resot pantai khusus untuk perempuan. Dan dia yakin akan sukses. Karena memang wisata pantai dengan pakaian tertutup apalagi ala orang arab yang ber-abaya-ria tentu kurang nyaman. Mengingat kondisi pantai yang panas menyengat, maka alternatif pantai khusus wanita sangat menggiurkan. Apalagi bagi yang ingin berjemur. Namun pengusaha Itali itu harus banyak-banyak menambah personel kebersihannya mungkin supaya tidak pusing seperti petugas kolam renang di daerahku itu.