Archive for September, 2006

Puasa? ya….tidak…

Monday, September 25th, 2006

    Begitulah setiap kali memasuki bulan Ramadhan sedangkan kondisi badan lagi hamil atau menyusui, selalu resah untuk memilih berpuasa atau tidak. Para Ulama memang semuanya sudah sepakat bahwa  wanita hamil atau menyusui tidak diwajibkan untuk berpuasa. Dengan didasarkan pada QS. Al-Baqarah : 184. Tapi emang mesti dibayar. Nah bentuk-bentuk bayarnya ini beberapa Ulama konon berbeda pendapat.

    Sebagian mengatakan wanita hamil dan menyusui dikategorikan sebagai orang sakit sehingga cara pembayarannya adalah dengan qadha’ di hari lain. Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa bumil dan bu sui itu dimasukkan dalam kelompok orang yang tidak mampu berpuasa. Jadi seperti orang lanjut usia dan kaum dhuafa yang harus bekerja keras sepanjang tahun (misal kuli bangungan, tukang becak), sehingga pembayarannya dengan fidyah. Sedangkan kelompok ulama yang lain berpandangan bahwa pembayarannya itu tergantung motivasi sang Ibu ketika dia memutuskan untuk tidak berpuasa. Jadi kalau motovasinya karena mengkhawatirkan kondisi bayinya maka hukumnya seperti orang yang tidak mampu berpuasa sehingga pembayarannya hanya dengan fidyah. Tapi kalau yang dikhawatirkan diri sendiri maka hukumnya seperti orang sakit yang berarti harus membayar qodho puasa.

       Dulu pengalamanku hamil pertama, aku hampir total tidak berpuasa. Puasa waktu itu hanya beberapa hari pertama dan karena waktu itu usia kandungan masih pada trisemester pertama jadi pas puasa justru muntah-muntahnya makin hebat. Dan ada kekhawatiran pula jika berpuasa maka asupan cairan akan berkurang padahal itu sangat penting untuk peredaran sari-sari makanan ke janin. Jadi meskipun makan banyak pas malamnya tapi terkadang untuk minum banyak-banyak sudah tidak kuat lagi. Jadi aku memutuskan untuk tidak berpuasa. Dan aku hanya membayar fidyah, tidak qodho.

           Begitupula ketika menyusui Adna. Menyusui tahun pertama seingatku juga tidak puasa sama sekali karena full ingin menyusui Adna. Dari beberapa pengalaman orang lain yang mencoba berpuasa saat menyusui membuat ASI encer, tidak enak, bahkan cenderung membuat bayi mencret. Tambahan lagi saat itu aku kuliah di Uni yang memakan waktu 2 jam perjalanan dan bolak balik jadi 4 jam. Kondisi fisik rasanya juga tak memungkinkan. Pernah mencoba puasa dan akhirnya jatuh sakit.  Setelahnya aku juga bayar hanya dengan fidyah. Baru pas tahun ke-2 aku coba untuk berpuasa karena Adna sudah besar.

              Baru tahun kemarin bisa puasa tanpa gangguan "panggilan tugas seorang ibu". Nah tahun ini kembali aku menjalankan " tugas ibu" yaitu hamil. Dan sekarang sudah memasuki minggu ke 27. Janin sudah cukup besar. Kembali keresahan menghantui antara ingin berpuasa atau mengambil keringanan itu. Banyak referensi yang aku baca bahwa berpuasa saat hamil sama sekali tidak berbahaya terutama untuk kehamilan di atas 5 bulan, sang ibu tidak mengalami gizi buruk, tidak diabetes, atau tidak hipertensi. Tapi terkadang masih ada kekhawatiran tersendiri. Apalagi jika malamnya karena kelelahan lebih banyak tertidur daripada makan dan minum yang cukup.

        Hari pertama aku mencoba berpuasa. Alhamdulillah tidak ada yang aneh. Si baby anteng2 aja dan tetap aktif bergerak-gerak. Aku bahkan masih tetap beberes rumah yang seperti kapal pecah gara-gara hari sabtu kami tinggal bepergian. Belum lagi ada tamu yang membuatku harus memasak dan membuat makanan kecil (tamuku non muslim). Meski tamuku menolak untuk makan dan minum, tapi aku sudah terlanjur masak. Walhasil ketika dia pamit pulang, dan jam baru menunjukkan pukul 5 sore tandanya masih 2 1/4 jam lagi berbuka aku mendadak teler. Lemes dan ngantuk berat. Aku usahain tidur, tapi si Adna ingin diajak main. Ya sudah aku baca-bacakan buku sambil mata setengah memejam. Adna berulangkali protes kalau aku ketiduran. Akhirnya aku menyerah dan meminta Adna nonton TV, dan aku jadi terlanjur gak bisa benar-benar tertidur. Tapi tetap aku usahain berbaring.

          Pas berbuka kaget banget melihat nasi yang baru aku masak tadi pagi sudah sedikit basah. Wah pertanda sebentar lagi basi. Berhubung sudah lapar berat akhirnya kita nekat makan juga. Dan aku hanya mampu makan sedikit. Akhirnya hari kedua aku putuskan untuk tidak berpuasa. Meski ikutan makan sahur dengan mas nano, tapi aku niatkan untuk tidak berpuasa karena mau recovery membayar kekurangan asupan gizi kemaren. Anehnya memang hari ini aku jadi bolak balik makan….hehhehehhe

            

Mama kenapa masih mau sama Papa…?

Thursday, September 21st, 2006

            Sharing atau ngobrol-ngobrol dengan sesama ibu kadang-kadang membawa pengalaman baru tersendiri. Seorang ibu pernah ngobrol tentang anaknya yang sekarang mulai sedikit ‘kritis’ mengomentari pola hubungan mama dan papanya. Suatu hari beliau dan suami tercinta ceritanya sedang punya problema ‘kecil’, biasalah bumbu penyedap rumah tangga. Dan tentu saja kadang diikuti aksi diam-diaman  (biasanya sih gak lebih dari 3 hari tentu saja).

          Sang anak yang agak heran dengan perubahan sikap si ibu yang misalnya sementara puasa bicara dan puasa menyediakan sarapan buat papanya tiba-tiba berkomentar, " Mama, jika mama sudah gak suka sama Papa lantas kenapa masih mau dengan Papa….?". " Teman-temanku (yang bule terutama) jika Mamanya sudah gak suka sama Papanya maka Papanya akan pergi begitu saja….". "Dan Mamanya itu akan cari pengganti nya yang lain kan tentu saja masih banyak yang suka…." begitu komentar sang anak lugu dan polosnya.

            Tentu saja sang ibu menjadi terhenyak sebentar begitu juga aku yang mendengarkan cerita  versi tak langsungnya. Yah anak-anak begitu polos bagaikan kertas putih kosong yang terkadang mendapat dan menyerap nilai-nilai di sekitarnya dengan lugu pula. Misalnya ketika ia bertandang ke rumah temannya kemudian ketika ia tidak pernah melihat papa temennya itu dan menanyakan keberadaannya sang teman dengan entengnya menjawab, " Papa saya pergi tuh, kan Mama saya sudah gak suka lagi…!". Dan sang teman itu  pun seolah-olah memaklumi semuanya seakan-akan yang pergi itu adalah orang yang tidak begitu penting dalam hidupnya. Atau mungkin sang teman  memang sudah merasa tidak membutuhkan sosok itu atau prasangka baiknya sang bapak masih tetap menjalankan peran kebapakannya meski tak menyandang gelar suami si ibu. Sehingga bagi si anak tak masalah sang Bapak di rumah sepanjang waktu atau hanya waktu-waktu tertentu untuk mengajak mereka jalan-jalan atau bermain. Entahlah……

            Aku merasa betapa perbedaan budaya begitu tajam untuk masalah ini. Di Indonesia jika bapak ibunya berpisah dan ketika sang anak ditanya keberadaan bapak atau ibunya yang tidak pernah ada di rumah, maka ia akan malu-malu mengatakan bahwa orangtuanya sudah berpisah. Malah tak jarang mereka menutup-nutupi dengan menjawab si bapak lagi tugaslah atau si bapak lagi bepergian lamalah. Memang karena anak adalah polos jawaban-jawaban mereka seringkali adalah cerminan jawaban sang ibu/sang bapak sendiri ketika sang anak bertanya. Ada ibu/bapak yang bisa sangat terus terang menjawab apa adanya tapi ada juga yang berusaha menutup-nutupi hal yang sebenarnya karena takut menyakiti perasaan hati anaknya atau risih jika didengar orang luar.

          Dari kejadian itu yang menjadi bahan renunganku bukan hanya masalah pola komunikasi yang berbeda antara budaya umum di Indonesia dan budaya umum di belahan bumi barat ini namun terlebih adalah pemaknaan nilai ‘pernikahan’. Bagi budaya timur pernikahan adalah ikatan janji suci yang tidak akan mudah putus dengan permasalahan suka atau tidak suka, lust oder nicht lust (gairah atau tidak bergairah)….Problema tentu selalu ada. Gelombang pasti akan menghantam perahu Rumah Tangga baik kecil maupun besar tapi pemaknaan akan suatu problema itulah yang menentukan biduk itu akan terus berlayar atau karam ke dasar laut.

           DImana-mana memang selalu ada tesa dan antitesa. Misalnya pihak barat menganalisa bahwa rendahnya angka perceraian di belahan dunia timur dikarenakan ketertindasan kaum perempuannya. Misal secara ekonomi kaum perempuan timur banyak yang bergantung pada pasangannya begitupula secara status sosial. Status sosial menjanda di belahan dunia timur lebih sering berkonotasi negatif sehingga banyak menimbulkan resiko yang berat dibandingkan dengan belahan dunia barat. Sedangkan pihak timur menganalisa tingginya angka perceraian di belahan barat karena ego individu yang terlalu tinggi dan pola pergaulan bebas yang semakin buruk.

           Bijaksana mungkin adalah ketika mau bercermin dan jujur pada diri sendiri ketika problema hebat itu diuji cobakan oleh yang Di atas. Dan karena rumah tangga adalah bak perahu yang ditumpangi tidak hanya sang suami atau istri saja tapi ada anak-anak tercinta mungkin perlu dipikirkan solusi yang terbaik bagi semuanya. Dalam Islam sendiri meski perpisahan itu adalah sesuatu yang syah (jika tak ada jalan keluar) tapi paling dibenci Allah.

         So, mungkin ketika anak-anak kita mendapatkan nilai yang menurut kita ‘lain’ seperti hal di atas, maka penjelasan dari pertanyaan itu menjadi begitu panjang dan lebar. Tapi mungkin itulah kesempatan kita berdialog dengan anak akan arti sebuah nilai yang kita anut.Wallahu alam bin shawab.

Met Puasa

Thursday, September 21st, 2006

Tak terasa rasa syukur akan datangnya bulan Ramadhan dalam kehidupanku semakin menggema. Semoga Allah memberikan kepada hambanya ini untuk meningkatkan kekhusyukan ibadah, kedekatan spiritual dan kematangan jiwa.

Teruntuk teman-temanku di friendster, sekali lagi SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA. Mohon maaf lahir dan bathin jika ada perbuatan atau kata-kata yang kurang berkenan.

Fakta Elterngeld 1

Friday, September 15th, 2006

    Sejak pertamakali mendengar adanya diskusi-diskusi oleh politisi tentang elterngeld aku dengan penuh antusias selalu pasang telinga. Kabarnya sih para negarawan Jerman mulai kebakaran jenggot melihat angka kelahiran dari tahun ke tahun yang terus melorot jatuh. Bahkan diperkirakan pada tahun 2020 bangsa Jerman akan berkurang hingga 50%. Tahun ini saja peta demografi (kependudukan) mulai cenderung berbentuk piramida terbalik. Artinya lebih banyak penduduk tua-nya dibandingkan penduduk mudanya. Padahal untuk negara sosial demokrat kayak Jerman ini subsidi silang berlangsung antara golongan muda yang produktif dan golongan tua yang sudah pensiun. Gaji para karyawan dipotong pajak dan juga tabungan hari tua yang sebetulnya untuk masa kini dipinjam dulu untuk bayarin uang pensiun para golongan tua.

     Nah, jika golongan produktif makin sedikit maka beban pemerintah Jerman untuk menyantuni kaum tuanya semakin bertambah. Sayang kekayaan alam mereka gak semelimpah Indonesia, dan jantung perekonomian mereka ada di industri. Untuk tahap pertama mereka mengambil tindakan untuk menunda umur pensiun hingga berusia 68 tahun. Dan yang kedua adalah terus mempropaganda orang untuk mempunyai anak. Pemerintah Jerman sudah menyediakan kindergeld untuk tiap anak yang lahir sebesar 154 euro perbulan hingga usia 18 tahun. Namun ternyata hal ini masih belum cukup bagi orang untuk punya anak. Karena keyataannya uang sebesar itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan uang yang harus dikeluarkan jika memiliki anak.

       Belum lagi, banyak kasus keluarga-keluarga yang merasa pendapatannya jauh berkurang ketika punya anak. Terutama untuk keluarga yang si ibu tadinya bekerja. Memiliki seorang pembantu tentu saja bukanlah hal yang normal di sini maupun di negara maju yang lain. Maka tak heran jika seorang bintang film ternama saja akan dengan susah payah mengurus sendiri bayinya, minimal hingga 1 tahun. Maka mau tak mau sang ibu harus berhenti bekerja seperti cuti atau mengambil paruh waktu. Dengan demikian otomatis pendapatan keluarga itu akan berkurang drastis. Karena untuk cuti yang panjang gajipun akan dipangkas besar-besaran. 

       Mungkin banyak yang memandang itulah konsekuensi berkeluarga. Meski pengeluaran bertambah namun bukankah kebahagiaan dan keceriaan bertambah pula?. Tapi mayoritas masyarakat disini tak berpikir demikian. Jika dengan kehadiran seorang anak lantas pendapatan berkurang sehingga tak bisa lagi sedikit memanjakan diri untuk berlibur atau berkunjung ke kafe, maka lebih baik untuk tidak memiliki anak. Kalau ditanya apakah mereka akan memikirkan kondisi mereka kelak jika tua nanti, mungkin mereka hanya tersenyum dan bilang kami hanya ingin menyelamatkan diri kami sendiri saat ini.

Nonton Film Indonesia

Thursday, September 14th, 2006

    Sebetulnya sudah agak lama aku kenal youtube yang temen-temen bilang bisa nonton film-film Indonesia atau acara-acara Indonesia seperti Indonesia Idol. Tapi waktu itu mungkin belum pengin aja dan mungkin juga lebih tertarik untuk mengerjakan sesuatu yang lain. Namun sejak seminggu ini, manakala si Adna sudah masuk sekolah lagi dan tinggallah aku sendiri dengan seabrek rutinitas pekerjaan rumah tangga keinginan untuk nengok film-film Indonesia di youtube jadi tinggi. Untungnya tidak ada tuntutan apakah pekerjaan rumah tangga itu harus segera selesai apa tidak, asal yang paling penting tetap harus menjaga tersedianya makanan, beberes (kalau gak ada tamu bisa beberes sekedarnya :-)….) , antar jemput adna dan ngajak main dia kalau dia udah pulang.

     So, lumayanlah film-film itu bisa menjadi obat kangen dengan kampung halaman. Dan yang lebih mengejutkan ternyata film-film Indonesia sekarang (setelah AADC) bagus-bagus. Setidaknya dari dua film yang kuntonton seperti Brownies dan Ungu. Apalagi film Ungu, waduh aku bener-bener suka. Film drama percintaan yang menyentuh dengan acting yang gak jelek-jelek amat. Terus nuansa penumpahan emosinya betul-betul menarik. Dari setting gambar yang diambil, wah ternyata Jakarta gak kalah jauh dibanding dengan setting-an Manhattan..kek..kekek….terus setting musik dan dialog-dialognya udah mulai lebih dewasa. Cuma satu yang aku kaget (wuih dasar gak ‘gaul’) udah banyak yah profesional2 muda Jakarta yang tinggal di apartemen-apartemen. Dari apartemen yang sederhana sampai yang mewah. Hihhi jadi udah mulai nih mendekati background film Hollywood.

       Dan emang Mira Lesmana masih perlu diacungi jempol, film Ungu ternyata juga salah satu garapannya. Untuk film Brownies, juga udah mulai penumpahan cerita yang sedikit lebih dewasa. Paling enggak, tokoh-tokohnya gak hanya mamerin harta ortunya tapi mereka juga kerja dan berkarier. Cuma sebel juga, emang banyak yah orang-orang Jakarta yang jadi ke-barat2an gitu ngomongnya. Perasaan lawan bicaranya sesama Indonesia deh. Atau mungkin doi lagi belajar ngelancarin bahasa Inggrisnya?.

         Tapi ada film yang menurutku super jelek. Yaitu Belahan Jiwa. Waduh-waduh ternyata produsernya emang gak jauh-jauh dengan produser sinetron-sinetron Multivision. Mungkin tuh orang tadinya punya ide yang lumayan kreatif, yaitu ingin membuat  film berlatang belakang psikologi. Atau mungkin dia abis baca bukunya Sibil seorang yang punya multikarakter gara-gara diperlakukan tidak baik oleh orangtuanya. Tapi kenapa jadi filmnya kehoror-horor-an gitu sih..! sebel banget aku nontonnya. Emangnya konsumen indonesia maih suka yang serem-serem gitu. Kalau mau bikin film serem yah thriller sekalian, tapi aku udah mulai ogah dengan thriller-thriller yang cuma ngedepanin sisi tegangnya tanpa ada jalur cerita yang jelas dan bagus. Dan di film ini rasanya unsur mengada-adanya banyak banget. Apalagi acting si cowoknya yang aduh bikin tambah burem aja deh.
      Oke deh, back to real life…..masak, nyetrika, nyuci…etc…