Fakta Elterngeld 1
Sejak pertamakali mendengar adanya diskusi-diskusi oleh politisi tentang elterngeld aku dengan penuh antusias selalu pasang telinga. Kabarnya sih para negarawan Jerman mulai kebakaran jenggot melihat angka kelahiran dari tahun ke tahun yang terus melorot jatuh. Bahkan diperkirakan pada tahun 2020 bangsa Jerman akan berkurang hingga 50%. Tahun ini saja peta demografi (kependudukan) mulai cenderung berbentuk piramida terbalik. Artinya lebih banyak penduduk tua-nya dibandingkan penduduk mudanya. Padahal untuk negara sosial demokrat kayak Jerman ini subsidi silang berlangsung antara golongan muda yang produktif dan golongan tua yang sudah pensiun. Gaji para karyawan dipotong pajak dan juga tabungan hari tua yang sebetulnya untuk masa kini dipinjam dulu untuk bayarin uang pensiun para golongan tua.
Nah, jika golongan produktif makin sedikit maka beban pemerintah Jerman untuk menyantuni kaum tuanya semakin bertambah. Sayang kekayaan alam mereka gak semelimpah Indonesia, dan jantung perekonomian mereka ada di industri. Untuk tahap pertama mereka mengambil tindakan untuk menunda umur pensiun hingga berusia 68 tahun. Dan yang kedua adalah terus mempropaganda orang untuk mempunyai anak. Pemerintah Jerman sudah menyediakan kindergeld untuk tiap anak yang lahir sebesar 154 euro perbulan hingga usia 18 tahun. Namun ternyata hal ini masih belum cukup bagi orang untuk punya anak. Karena keyataannya uang sebesar itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan uang yang harus dikeluarkan jika memiliki anak.
Belum lagi, banyak kasus keluarga-keluarga yang merasa pendapatannya jauh berkurang ketika punya anak. Terutama untuk keluarga yang si ibu tadinya bekerja. Memiliki seorang pembantu tentu saja bukanlah hal yang normal di sini maupun di negara maju yang lain. Maka tak heran jika seorang bintang film ternama saja akan dengan susah payah mengurus sendiri bayinya, minimal hingga 1 tahun. Maka mau tak mau sang ibu harus berhenti bekerja seperti cuti atau mengambil paruh waktu. Dengan demikian otomatis pendapatan keluarga itu akan berkurang drastis. Karena untuk cuti yang panjang gajipun akan dipangkas besar-besaran.
Mungkin banyak yang memandang itulah konsekuensi berkeluarga. Meski pengeluaran bertambah namun bukankah kebahagiaan dan keceriaan bertambah pula?. Tapi mayoritas masyarakat disini tak berpikir demikian. Jika dengan kehadiran seorang anak lantas pendapatan berkurang sehingga tak bisa lagi sedikit memanjakan diri untuk berlibur atau berkunjung ke kafe, maka lebih baik untuk tidak memiliki anak. Kalau ditanya apakah mereka akan memikirkan kondisi mereka kelak jika tua nanti, mungkin mereka hanya tersenyum dan bilang kami hanya ingin menyelamatkan diri kami sendiri saat ini.