Archive for November, 2006

Malam kebudayaan Indonesia

Friday, November 24th, 2006

          Malam Kebudayaan Indonesia (Indonesische Kultur Abend-IKA) kembali diselenggarakan di Muenchen hari Sabtu lalu (18.11). Acara yang mengusung berbagai pertunjukkan tari, lagu, maupun teater dari daerah-daerah di Nusantara ini memang hampir selalu tiap tahun diselenggarakan. Di ajang inilah ada perasaan rindu tanah air yang untung jadi terobati. Apalagi semenjak Adna turut berpartisipasi dalam setiap acara IKA.

           Tahun lalu Adna meramaikan acara peragaan busana, dan tahun ini di ajang dolanan anak. Dolanan anak adalah semacam tari-tarian sederhana yang menggambarkan gimana anak-anak Indonesia di pedesaan bermain. Ada jaranan, ada main congklak, ada cublek-cublek suweng atau ceplak gunung. Musik yang mengiringi juga musik yang riang khas anak-anak. Rasanya terharu juga dengan momen ini. Adna yang saat itu berperan sebagai anak yang sedang main congklak duduk dengan manisnya, berkebaya putih dan bersanggul kecil.

             Mungkin Adna masih beruntung karena meski sedikit, tapi mengenal permainan-permainan klasik Indonesia. Karena belum tentu anak-anak di Indonesia sendiri masih mengenal permainan itu. Keponakan saya menurut ibunya malah asyik bermain Playstation atau mungkin asyik pergi ke timezone di Mall-mall. Setelah tampil pun Adna dan teman-temannya-Naqishya dan Dara-langsung mengambil posisi duduk di kursi terdepan dan asyik menikmati rangkaian acara-acara selanjutnya. Moga-moga apa yang mereka lihat dapat lebih membangkitkan rasa ke-Indonesiaannya. Sebentar lagi Adna akan tampil juga di pertunjukkan Balet yang tentu saja khas budaya Barat. Paling tidak dia punya referensi atau pembanding bahwa sejatinya dia adalah anak Indonesia yang juga punya kebudayaan sendiri.

               Meski hidup di lingkungan teman-teman yang masih punya semangat untuk membangkitkan kebudayaan Indonesia, namun sepertinya ada perasaan khawatir bahwa membesarkan anak di negeri nan jauh ini belumlah cukup untuk menanamkan ’sense of belonging’ tentang Indonesia. Mengikuti rangkaian kegiatan budaya Indonesia di sini bagi anak-anak mungkin cukup jika kita hanya menargetkan anak-anak kita ‘mengenal Indonesia’. Tapi untuk lebih jauh yaitu ‘paham’ atau membangkitkan ’sense of belonging’-nya rasanya masih jauh.

              Bagaimana kelak dia peduli dengan persoalan-persoalan Indonesia dan proaktif melakukan langkah-langkah nyata baik langsung maupun tidak langsung. Kembali saya jadi teringat dengan kisahnya Prof.Dr.Samaun Samadikun yang lulusan Universitas Stanford tapi memilih pulang dan mengabdi kepada Indonesia. Orang-orang semacam beliau adalah putra-putra bangsa yang secara emosi terikat kuat dengan Indonesia bukan karena orangtuanya orang Indonesia tapi dia pernah mencicipi hidup dan bergaul dengan lingkungan Indonesia secara menyeluruh.

             Kembali pertanyaan di benak ini menggelitik, bukankah cukup dengan membawa anak-anak kita liburan setahun sekali ke Indonesia selama beberapa minggu maka ’sense of belonging’ itu akan terbentuk. Lagi-lagi diri ini masih ragu. Berlibur hanyalah potret kecil tentang Indonesia, bahkan mungkin hanya potret manisnya saja. Dia mungkin melihat kemiskinan di Indonesia, tapi orang-orang miskin atau anak-anak jalanan itu ibarat sekedar ‘life show’ sekilas. Karena anak-anak jalanan itu bukanlah salah satu dari teman baik mereka. Maka ketika balik kembali ke negeri ini life show itu hanya berakhir dalam benak dan kemudian kembali hilang untuk diganti dengan memori lain yang lebih indah.

            Na ja, tapi sebagai orangtua sudah sanggupkah kita kembali ke belantara Indonesia. Dimana hukum rimba berlaku sedangkan di lain sisi kita sudah mulai terlelap dengan kenyamanan di negeri ini?. Pasti harus ada yang dikompromikan bukan dikorbankan. Kalau tidak jangan-jangan Indonesia jadi seperti India dimana bangsanya maju tapi bukan maju di negerinya tapi justru di negeri orang. Sedangkan India sendiri masih terbelenggu dengan keterbelakangan.

            

Hmm…is it baby stuff shopping time?

Thursday, November 9th, 2006

    Gak kerasa juga hari demi hari berlalu dan sekarang si baby udah masuk ke trisemester ke-tiga (udah minggu ke 33, euy). Ada yang bilang bahwa persiapan anak ke-dua jauh lebih nyantai daripada waktu persiapan anak pertama. Tapi bagiku kayaknya sama aja deh…..Mungkin karena aku seneng jalan-jalan dan liat-liat barang, makanya sejak masuk minggu ke 28 udah sibuk deh hunting sana sini. Lagian karena udah berselang 4,5 tahun jadi persiapan hampir seperti dari awal lagi.

    Dari lihat-lihat di online shopping, ke toko-toko, sampai ke flohmarkt-flohmarkt yang kebetulan bermunculan saat musim gugur tiba. Baju-baju si adna memang sudah aku lungsurkan ke orang lain yang saat itu memang membutuhkan. Dan alhamdulillah saat aku kembali butuh baju-baju baby, ada saja yang mau melungsurkan baju-baju bayi mereka dulu. Tapi berhubung bayiku akan lahir di musim winter kayaknya mesti harus dipersiapkan baju-baju yang tebal dan kebetulan belum banyak aku punya. Jadi tetap aku juga harus mempersiapkan yang kurang. Meski tentu saja aku banyak bersyukur karena paling tidak persiapan gak dari nol.

     Lucu juga kembali memilih-milih baju-baju mungil. Anehnya sekarang mungkin agak lain karena baju-bajunya mesti yang bernuansa boy sedangkan biasanya aku selalu memilih baju anak-anak warna pink. So rasanya kagok juga waktu pertama-tama. Memang sebelum salju turun mesti sudah bersiap-siap nyetok barang-barang. Karena kalau sudah datang dinginnya wah kayaknya mau keluar males banget. Belum lagi memasuki bulan desember kayaknya mesti bebenah rumah juga. Barang-barang baby kayak baju-baju yang beli di flohmarkt mesti dicuci lagi, belum lagi autosizt, tragetasche, kursi tidur bayi, dll bekas punya Adna dulu yang disimpan di gudang mesti dicuci2 lagi.

      Persiapan tempat tidur baby,  tempat menyimpan barang-barang baby, wah banyak juga yang perlu dikerjakan….Tapi Insya Allah enjoy juga ngerjain semuanya…