Malam kebudayaan Indonesia

          Malam Kebudayaan Indonesia (Indonesische Kultur Abend-IKA) kembali diselenggarakan di Muenchen hari Sabtu lalu (18.11). Acara yang mengusung berbagai pertunjukkan tari, lagu, maupun teater dari daerah-daerah di Nusantara ini memang hampir selalu tiap tahun diselenggarakan. Di ajang inilah ada perasaan rindu tanah air yang untung jadi terobati. Apalagi semenjak Adna turut berpartisipasi dalam setiap acara IKA.

           Tahun lalu Adna meramaikan acara peragaan busana, dan tahun ini di ajang dolanan anak. Dolanan anak adalah semacam tari-tarian sederhana yang menggambarkan gimana anak-anak Indonesia di pedesaan bermain. Ada jaranan, ada main congklak, ada cublek-cublek suweng atau ceplak gunung. Musik yang mengiringi juga musik yang riang khas anak-anak. Rasanya terharu juga dengan momen ini. Adna yang saat itu berperan sebagai anak yang sedang main congklak duduk dengan manisnya, berkebaya putih dan bersanggul kecil.

             Mungkin Adna masih beruntung karena meski sedikit, tapi mengenal permainan-permainan klasik Indonesia. Karena belum tentu anak-anak di Indonesia sendiri masih mengenal permainan itu. Keponakan saya menurut ibunya malah asyik bermain Playstation atau mungkin asyik pergi ke timezone di Mall-mall. Setelah tampil pun Adna dan teman-temannya-Naqishya dan Dara-langsung mengambil posisi duduk di kursi terdepan dan asyik menikmati rangkaian acara-acara selanjutnya. Moga-moga apa yang mereka lihat dapat lebih membangkitkan rasa ke-Indonesiaannya. Sebentar lagi Adna akan tampil juga di pertunjukkan Balet yang tentu saja khas budaya Barat. Paling tidak dia punya referensi atau pembanding bahwa sejatinya dia adalah anak Indonesia yang juga punya kebudayaan sendiri.

               Meski hidup di lingkungan teman-teman yang masih punya semangat untuk membangkitkan kebudayaan Indonesia, namun sepertinya ada perasaan khawatir bahwa membesarkan anak di negeri nan jauh ini belumlah cukup untuk menanamkan ’sense of belonging’ tentang Indonesia. Mengikuti rangkaian kegiatan budaya Indonesia di sini bagi anak-anak mungkin cukup jika kita hanya menargetkan anak-anak kita ‘mengenal Indonesia’. Tapi untuk lebih jauh yaitu ‘paham’ atau membangkitkan ’sense of belonging’-nya rasanya masih jauh.

              Bagaimana kelak dia peduli dengan persoalan-persoalan Indonesia dan proaktif melakukan langkah-langkah nyata baik langsung maupun tidak langsung. Kembali saya jadi teringat dengan kisahnya Prof.Dr.Samaun Samadikun yang lulusan Universitas Stanford tapi memilih pulang dan mengabdi kepada Indonesia. Orang-orang semacam beliau adalah putra-putra bangsa yang secara emosi terikat kuat dengan Indonesia bukan karena orangtuanya orang Indonesia tapi dia pernah mencicipi hidup dan bergaul dengan lingkungan Indonesia secara menyeluruh.

             Kembali pertanyaan di benak ini menggelitik, bukankah cukup dengan membawa anak-anak kita liburan setahun sekali ke Indonesia selama beberapa minggu maka ’sense of belonging’ itu akan terbentuk. Lagi-lagi diri ini masih ragu. Berlibur hanyalah potret kecil tentang Indonesia, bahkan mungkin hanya potret manisnya saja. Dia mungkin melihat kemiskinan di Indonesia, tapi orang-orang miskin atau anak-anak jalanan itu ibarat sekedar ‘life show’ sekilas. Karena anak-anak jalanan itu bukanlah salah satu dari teman baik mereka. Maka ketika balik kembali ke negeri ini life show itu hanya berakhir dalam benak dan kemudian kembali hilang untuk diganti dengan memori lain yang lebih indah.

            Na ja, tapi sebagai orangtua sudah sanggupkah kita kembali ke belantara Indonesia. Dimana hukum rimba berlaku sedangkan di lain sisi kita sudah mulai terlelap dengan kenyamanan di negeri ini?. Pasti harus ada yang dikompromikan bukan dikorbankan. Kalau tidak jangan-jangan Indonesia jadi seperti India dimana bangsanya maju tapi bukan maju di negerinya tapi justru di negeri orang. Sedangkan India sendiri masih terbelenggu dengan keterbelakangan.

            

Leave a Reply