Archive for February, 2008

Balada orang takut

Monday, February 25th, 2008

Aling-aling pengen gak ketipu sama orang China tapi berujung malu hehehe. Ceritanya nieh waktu mau pindahan dari Jerman ke China baju-baju dipisahin antara yang diangkut pake container yang dinaikin lewat kapal laut sama baju yang ditaruh dikoper. Baju yang ditaruh di koper itulah andalan utama kita sebelum berjumpa lagi sama si container di China. Nah aku ternyata hanya membawa 1 jaket winter begitupula Adna. Yah sudah niatnya emang nanti begitu di China mau beli aja disana (katanya murah-murah).

Sebetulnya jaket winterku itu udah kotor kuadrat deh. Apalagi emang warnanya yang putih makin memperjelas kotornya. Rencananya begitu nyampe China mau aku laundry-in aja. Tapi begitu nyampe China..berr…ber..udara dingin betul. Rasanya gak bisa lepas dengan si jaketku itu. Seminggu pertama kita padahal udah jalan-jalan ke pertokoan. Tapi setiap mau beli jaket langsung mengkeret karena pertama gak bisa bahasanya. Kalau gak bisa bahasanya aku takut banget ditipu dengan penawaran yang tinggi. Aku pernah beli barang-barang di China yang kayaknya udah di toko dan udah ditulis harganya. Aku beli aja sesuai dengan harga yang tertera. Suatu kali pernah jalan bareng temen ketika beli souvenir China, itu udah ada harga tertera ternyata sama temenku masih ditawar-tawar hingga sepertiganya.

Wah daripada ditipu jadi ngeluarin uang banyak mendingan ditahan-tahan dulu deh pake jaket kotornya. Kebetulan ada temen yang janji mau nemenin beli jaket. Tapi tunggu-ditunggu ternyata cuaca memburuk. Temenku itu jelas gak mood dong untuk shopping. Terus ternyata si Bibi di rumah juga udah gak tahan liat jaket kotorku itu maka dicucilah si jaket.

Waduh jaket winter tebel dalam keadaan basah. Mana gak ada sinar matahari.  Walhasil waktu jemput adna aku masih pake sweater, wah dingin betul. AKu nanya sama kenalan yang orang Taiwan dan bisa inggris kalau dia tahu tempat membeli jaket terdekat. Karena bagi yang tinggal di China tapi belum bisa bahasanya jangan coba-coba bicara kalau gak betul ucapannya, bisa-bisa si tukang taxinya salah denger dan nyasarlah kita. Jadi biasanya kita mesti nunjukin alamat lokasi dengan huruf China. Nah aku berharap si orang taiwan itu tahu dan dia tulisin pake huruf china.

Begitu tahu alasan kenapa aku pengen beli jaket, dia bilang gak perlu beli jaket dia pinjemin aja jaketnya. Begitu juga jaket buat si adna dia mau pinjemin jaket anaknya. Ibu itu baik sekali terus dia cerita ke ibu-ibu lain tentang masalahku.Terus ibu lain itu bilang " Wah sebaiknya emang tiap orang punya banyak jaket, tenang disini jaket murah kok…!". Wduh aku jadi malu, udah di situasi darurat aja masih takut sama harga.

Dayly activity

Wednesday, February 13th, 2008

       Ketika kami menginjakkan kaki di China kebetulan bertepatan dengan tahun baru China (Imlek, Lunar year). Jadi banyak instansi-instansi yang tutup. Kayak sekolah Adna pun libur selama 2 minggu. Kantor-kantor juga seminggu pertama off dan minggu kedua baru memulai aktifitas. Tapi bagi kami cukup menguntungkan karena waktu ini adalah jeda untuk beradaptasi dan sedikit ‘break’ dari kerepotan akibat pindahan.
       Tahun baru China ternyata lumayan meriah. Bayangkan saja seminggu lebih bunyi petasan dan kembang api dimana-mana. Wah semangat bener ya mereka ngerayain tahun barunya. Karena didorong kebutuhan pokok untuk makan, maka aktivitas pertama kita ke luar rumah adalah belanja. Wah sudah 4 tempat perbelanjaan kita datangi. Tujuannya yah selain perbandingan juga untuk mempelajari gaya-gaya di setiap perbelanjaan itu.
      Pertama yang kita datangi adalah Metro. Hmm..dari namanya kayaknya udah rada familiar yah dengan di jerman.Metro di sini ternyata bagaikan Makro di Indonesia. JAdi mereka menjual barang-barang dengan volume besar-besar. Kayak bawang putih aja masak per-2 kg-an. Wah dikata kita mau buat ngusir vampir apa..segitu banyak…!. Minyak goreng juga paling kecil 5 ltr. Tapi banyak juga lho barang-barang yang kita bisa temui di jerman. Kayak sabun cuci Persil, Klare bruehe ,Jaeger Sosse (ini bahkan masih dalam tulisan latin berbahasa jerman), sabun cuci piring Pril, terus produk-produk reinigung.  Yah kita beli kebutuhan-kebutuhan pokok dulu. Kayak beras (berasnya disini bulet-bulet besar, kayak beras untuk sushi), sabun-sabun, susu,cemilan,dll.
          Tapi baru beberapa hari, susu sudah mulai habis,cemilan, roti juga habis. Wah karena Metro tergolong jauh kita cari toko terdekat yang lain, Auchan. Nah ini Walmart-nya China. SEmua kebutuhan hidup dari A-Z ada dan tempatnya di area yang luas banget, jadi semua barang di 1 lantai. Wah model perbelanjaan kayak begini sering bikin aku pusing. Dan orang yang datang buannyaaakkkk banget. Tumplek plek, tiap hari kayak begitu.
         Lagi-lagi kita belanja juga gak sekalian banyak. Padahal pusat-pusat perbelanjaan itu letaknya gak dekat dan biasanya karena bawa anak-anak kita naik taksi. Entahlanh mindsetku kayaknya masih belum beradaptasi. Seolah-olah aku masih belanja di Penny Markt deket rumah. Yang sewaktu-waktu klo susu atau roti abis tinggal jalan kaki.
         Pusat perbelanjaan ketiga yang disebut neighbourhood center, ini mah kayak PEP di Neuperlach Zentrum tapi jauh lebih kecil. Supermarketnya juga seperti Tengelmann. Tapi ada toko-toko lain dari mulai toko permen, bakery, Studio foto,dll.
         Yah secara umum kalau yang namanya belanja mah dimana-mana yah sama. Dari segi harga memang lebih murah dari di jerman, tapi itu pun gak semua. Harga susu fresh milk hampir sama, demikian pula harga pampers. Dan kalaupun makanan lebih murah juga hanya lebih murah 60-70% saja dengan di jerman. Jadi seperti belanja di supermarket-supermarket di Jakarta. Tapi untungnya disini aku bisa nemuin apel favoritku si red delicious Washinggton Apple. Dan roti-roti dibakery-nya hmmm wuenakkk…yang empuk-empuk gitu.
           Selain belanja belanji kita juga nyoba makan di luar. Alhamdulillah untungnya kita nemuin restaurant Muslim. Terus pernah juga nyoba di KFC, ternyata ada produk-produk fish-nya. Nyoba juga nongkrong di starbucks coffe dan restaurant Mexico. Enaknya kalau ke restaurant Amerika atau eropa sistem penghangatnya bagus. Begitu masuk langsung hawa angetnya mantap.  Sayangnya memang mereka pasang tarif-nya sama juga euy dengan di jerman. Kayak segelas cklat hangat di starbuck harganya 24 Yuan (2,4 euro) atau kopinya 32 Yuan.

Menginjakkan kaki di China

Monday, February 11th, 2008

         Tanggal 4 Februari tengah malam, kami sampai di kompleks apartemen Landmark Skylight (Hu zoe an). Untung saja ada beberapa satpam yang  masih berjaga-jaga. Merekalah yang membantu menarik koper dari taxi sampai depan pintu apartemen. Meski dari tempat turunnya taxi apartemen kami tidak jauh, tapi jalan setapaknya tertutup salju. Hanya sebagian kecil yang dibersihkan. Cukup repot jika harus bolak balik narik koper sendirian. Gak nyangka memang ternyata salju di China cukup tebal. Udara pun dingin sekali entah minus berapa.
           Sampai dalam apartemen pun teryata dinginnnya gak banyak berubah. Di ruang tamu ada heater besar. Tapi jangan dibayangkan heizung di jerman. Ini hanya sebuah heater kecil yang menghangatkan ruangan dengan menghembuskan angin hangat. Begitu juga di tiap ruangan ada AC yang bisa distel temperaturnya. Tapi sayangnya dengan sistem pemanas seperti itu hanya 50 cm dari alat itu saja yang hangat selebihnya duiinnnginnnn. Waktu itu suhu dalam rumah 7 C. Bener-bener kayak kulkas. Mana perut kroncongan karena seharian belum makan. Ke dapur nyoba nyalain kompor sulit. Air di kran juga seperti air es dan tentu saja tidak layak minum.   Satu-satunya yang berfungsi adalah microwave.
             Walhasil kami masak nasi dengan microwave itu. Untungnya bawa Abon, Kering Tempe Terik, cukuplah untuk jadi lauk mengganjal perut. Apartemen ini lumayan bergaya modern. Lantainya kemilau yang bagiku memantulkan  susahnya merawat itu semua. Ukurannya 178 meter persegi termasuk ballkon. Satu ruang tamu besar dengan sofa, TV set dan meja makan lengkap. Kamar tidur ada 2 buah dengan kamar tidur utamanya dilengkapi kamar mandi. 1 Kamar kerja, dapur dan kamar mandi lagi. Di dapurnya juga dilengkapi dengan kompor gas, sterilisator alat makan, mesin cuci piring, dan mesin cuci baju. Perabot rumah tangga seperti sofa, dining table, tempat tidur sepertinya bagus dan dari material berkualitas lumayan.
              Lingkungan sekitar juga berbeda sekali dengan di jerman. Sepanjang jalan kami lihat gedung-gedung apartemen yang tinggi-tinggi dan bergaya modern. Cukup pusing juga melihat gedung tinggi yang begitu banyak. Yah inilah china, penduduknya padat sekali. Gedung-gedung apartemennya membentuk coloni-coloni yang biasanya masing-masing memilki kekhasan gaya arsitektur. Tiap coloni apartemen itu ada namanya seperti Landmark, Horizont Resort, Four Seasons,dll.
               Sepintas kota kami mirip dengan Singapur. Dan ternyata memang karena region kami adalah Singapur Industrial Park (SIP), mungkin kalau di jakarta kayak Serpong gitu. Jadi region ini dulunya developer sahamnya dari Singapur dan ditata menyerupai Sinngapur. Jalan rayanya besar-besar dan bersih. Berasa di Singapur asal jangan coba-coba ke toilet umumnya. Ke toilet umum barulah sadar klo kita lagi di China.

            
            

After 7 years

Friday, February 8th, 2008

    Biasanya kami yang mengantarkan teman-teman dan sahabat yang hendak kembali ke tanah air atau berpindah ke negara lain. Namun , hari itu tanggal 2 februari 2008 kamilah yang diantar sahabat-sahabat tercinta. Hidup terkadang adalah sebuah pilihan dari takdir-takdir. Entahlah akhirnya kami memilih China sebagai negara persinggahan mozaik hidup berikutnya. Tak ada firasat ataupun khayalan sebelumnya untuk tinggal di negara orang-orang Tiongkok ini.
     Namun sepenggal hati kami tetap tertinggal di Jerman. Apalagi darah daging kami semuanya lahir disana. Seorang sahabat sufi di Bandung berkata bahwa  tanah kelahiran bukanlah hanya sekedar  tertulis di akta lahir melainkan lebih dari itu menentukan misi hidupnya di masa depan. Bagi kami yang orang awam terkadang menyisakan tanya yang cukup besar bagaimana kami sebagai orang tua bertanggungjawab menuntun anak-anak kami menuju masa depannya pun ketika ternyata ke depan Jerman bukanlah lagi tanah persinggahan kami. Sekali lagi hanya Allah yang tahu.
       Yah, setelah hampir 7 tahun di jerman meski mungkin belum terlalu lama tapi cukup meninggalkan goresan kenangan yang indah dan tak terlupakan. Di jermanlah untuk pertamakalinya kami membangun biduk rumah tangga. Dan ketika anak-anak satu persatu lahir yah kami berdua saja yang melakukan sendiri. Rasanya masih menjadi kenangan indah ketika baru saja pulang melahirkan si Ayah memasakkan telor ceplok dan indomie rebus ‘istimewa’.
       Di jermanlah tempat kami belajar banyak untuk beradaptasi.Beradaptasi dengan lingkungan sekitar, belajar beradaptasi menjadi suami istri dan kemudian orang tua. Sungguh penggalan-penggalan kejadian penting dalam fase hidup kami terukir di sana.
      Rasanya belum lama, ketika tanggal 31 Juli 2001 kami menginjakkan kaki di bandara Frankfurt dan berkereta ICE menuju Muenchen. Tiba di hari Minggu semuanya terasa lengang. Untuk pertamakali kami tinggal di apartemen Arabela Park. Apartemen yang indah namun cukup berisik karena dekat dengan jalan raya. 3 Bulan disana pindah ke Bergstrasse. Dan terakhir di Schlierseestrasse.

      Untuk sahabat-sahabatku semua yang menjelma bak keluarga sendiri. Banyak kenangan dan cerita. Sedih dan tentu saja kehilangan. Specially for The Jatmikos. Merekalah yang menjemput Mas Nano ketika pertamakali  berada di Muenchen. Dan mereka pulalah yang mengantar kita ketika pergi. Moga Allah membalas amal kebaikan kalian.  The Nugrahas……tetangga terdekat. Maafkan kami jika sudah membanjiri rumah kalian dengan barang-barang . Dan terimakasih banyak juga atas semua pertolongan. Jadi ingat ketika aku dan Ina saling bergantian menjaga baby-baby kita saat masing-masing ada keperluan. Dan para seniorku (beliau-beliau ini sudah ada sejak aku di Muenchen dan bahkan mereka masih ada ketika aku pergi); Bu Elka,Bu Bambang,Mbak Yulis,mbak Eva Helps miss u so much. Sahabat seumur ; Dwi Saad….jadi ingat pas Saad masih bujangan dan curhat betapa dia sangat mengagumi calon istrinya. Mbak Tresna meski baru dekat belakangan tapi juga banyak berjasa apalagi bersedia pintu rumahnya malam-malam digedor untuk dititpin Adna saat aku melahirkan Adam. Oiya..mbak Endah..kita juga punya kenangan cerita sendiri..yang selalu membuat kita jad tertawa. But take care…buddy…!.

    Untuk semua teman-teman di muenchen yang lain yang tak dapat diceritakan satu persatu…wah kalian makin memperkaya pengalaman terindahku saat-saat di jerman.