After 7 years
Biasanya kami yang mengantarkan teman-teman dan sahabat yang hendak kembali ke tanah air atau berpindah ke negara lain. Namun , hari itu tanggal 2 februari 2008 kamilah yang diantar sahabat-sahabat tercinta. Hidup terkadang adalah sebuah pilihan dari takdir-takdir. Entahlah akhirnya kami memilih China sebagai negara persinggahan mozaik hidup berikutnya. Tak ada firasat ataupun khayalan sebelumnya untuk tinggal di negara orang-orang Tiongkok ini.
Namun sepenggal hati kami tetap tertinggal di Jerman. Apalagi darah daging kami semuanya lahir disana. Seorang sahabat sufi di Bandung berkata bahwa tanah kelahiran bukanlah hanya sekedar tertulis di akta lahir melainkan lebih dari itu menentukan misi hidupnya di masa depan. Bagi kami yang orang awam terkadang menyisakan tanya yang cukup besar bagaimana kami sebagai orang tua bertanggungjawab menuntun anak-anak kami menuju masa depannya pun ketika ternyata ke depan Jerman bukanlah lagi tanah persinggahan kami. Sekali lagi hanya Allah yang tahu.
Yah, setelah hampir 7 tahun di jerman meski mungkin belum terlalu lama tapi cukup meninggalkan goresan kenangan yang indah dan tak terlupakan. Di jermanlah untuk pertamakalinya kami membangun biduk rumah tangga. Dan ketika anak-anak satu persatu lahir yah kami berdua saja yang melakukan sendiri. Rasanya masih menjadi kenangan indah ketika baru saja pulang melahirkan si Ayah memasakkan telor ceplok dan indomie rebus ‘istimewa’.
Di jermanlah tempat kami belajar banyak untuk beradaptasi.Beradaptasi dengan lingkungan sekitar, belajar beradaptasi menjadi suami istri dan kemudian orang tua. Sungguh penggalan-penggalan kejadian penting dalam fase hidup kami terukir di sana.
Rasanya belum lama, ketika tanggal 31 Juli 2001 kami menginjakkan kaki di bandara Frankfurt dan berkereta ICE menuju Muenchen. Tiba di hari Minggu semuanya terasa lengang. Untuk pertamakali kami tinggal di apartemen Arabela Park. Apartemen yang indah namun cukup berisik karena dekat dengan jalan raya. 3 Bulan disana pindah ke Bergstrasse. Dan terakhir di Schlierseestrasse.
Untuk sahabat-sahabatku semua yang menjelma bak keluarga sendiri. Banyak kenangan dan cerita. Sedih dan tentu saja kehilangan. Specially for The Jatmikos. Merekalah yang menjemput Mas Nano ketika pertamakali berada di Muenchen. Dan mereka pulalah yang mengantar kita ketika pergi. Moga Allah membalas amal kebaikan kalian. The Nugrahas……tetangga terdekat. Maafkan kami jika sudah membanjiri rumah kalian dengan barang-barang . Dan terimakasih banyak juga atas semua pertolongan. Jadi ingat ketika aku dan Ina saling bergantian menjaga baby-baby kita saat masing-masing ada keperluan. Dan para seniorku (beliau-beliau ini sudah ada sejak aku di Muenchen dan bahkan mereka masih ada ketika aku pergi); Bu Elka,Bu Bambang,Mbak Yulis,mbak Eva Helps miss u so much. Sahabat seumur ; Dwi Saad….jadi ingat pas Saad masih bujangan dan curhat betapa dia sangat mengagumi calon istrinya. Mbak Tresna meski baru dekat belakangan tapi juga banyak berjasa apalagi bersedia pintu rumahnya malam-malam digedor untuk dititpin Adna saat aku melahirkan Adam. Oiya..mbak Endah..kita juga punya kenangan cerita sendiri..yang selalu membuat kita jad tertawa. But take care…buddy…!.
Untuk semua teman-teman di muenchen yang lain yang tak dapat diceritakan satu persatu…wah kalian makin memperkaya pengalaman terindahku saat-saat di jerman.
February 11th, 2008 at 1:05 am
kami jg sangat kehilangan Mbak sekeluarga. Hanya Allah swt yg bisa membalas budi baik Mbak Nuri dan Mas Nano pd kami. Thanks for everything. Kangen pisan euy….