Waktu, tunggulah
Sunday, May 17th, 2009Di rumah, menghabiskan waktu dengan urusan domestik, apalagi bisa bermain-main dengan anak bukankah suatu kemewahan?. Apalagi jika dahi tak perlu berkerut karena urusan ini sudah tanggal tua. Yah memang kata-kata syukur harusnya tak lepas-lepas. Namun kadangkala banyaknya waktu di rumah terkadang bagaikan air yang tergenang. Rasanya ingin mengalirkan air yang tergenang itu. Namun apa daya ketika belati “waktu” bilang tunggulah.
Menunggu dan menunggu dan rasanya aku seringkali sudah hampir tenggelam dalam genangan air ini. Tiba-tiba aku teringat dulu, kala aku masih muda belia dan masih berjuang belajar di bangku kuliah, yah…aku punya keinginan yang sangat naif. Keinginan naif yang sebetulnya tulus karena dorongan doktrin. Sampai aku bertanya-tanya sama yang di Atas, mengapa keinginan tulusku ini tak pernah bersambut? Bukankan niat ini sungguh mulia?
Dan tak satupun harapan datang. Justru ketika aku sudah mulai lupa dengan keinginan itu, dan lebih realistis harapan-harapan itu datang bertubi-tubi. Kanan-kiri semuanya memberikan harapan yang sungguh tak kuduga-duga. Dan Allah yang maha baik telah menggoreskan takdirnya di saat yang sungguh ideal seperti yang aku inginkan.
Yang Kuasa seolah-olah ingin mengajari aku tentang kehidupan. Diajarkanlah aku apa-apa yang dulu seolah sulit dan tak terbayangkan ternyata aku bisa lewati. Nah, mengapa pola seperti itu tak aku pikirkan?. Entahlah, seringkali ketidaksabaran menunggu waktu bisa jadi mencabik-cabik rencana indah. Duh, lagi-lagi menunggu….