Hmm…is it baby stuff shopping time?

November 9th, 2006 by nurista166

    Gak kerasa juga hari demi hari berlalu dan sekarang si baby udah masuk ke trisemester ke-tiga (udah minggu ke 33, euy). Ada yang bilang bahwa persiapan anak ke-dua jauh lebih nyantai daripada waktu persiapan anak pertama. Tapi bagiku kayaknya sama aja deh…..Mungkin karena aku seneng jalan-jalan dan liat-liat barang, makanya sejak masuk minggu ke 28 udah sibuk deh hunting sana sini. Lagian karena udah berselang 4,5 tahun jadi persiapan hampir seperti dari awal lagi.

    Dari lihat-lihat di online shopping, ke toko-toko, sampai ke flohmarkt-flohmarkt yang kebetulan bermunculan saat musim gugur tiba. Baju-baju si adna memang sudah aku lungsurkan ke orang lain yang saat itu memang membutuhkan. Dan alhamdulillah saat aku kembali butuh baju-baju baby, ada saja yang mau melungsurkan baju-baju bayi mereka dulu. Tapi berhubung bayiku akan lahir di musim winter kayaknya mesti harus dipersiapkan baju-baju yang tebal dan kebetulan belum banyak aku punya. Jadi tetap aku juga harus mempersiapkan yang kurang. Meski tentu saja aku banyak bersyukur karena paling tidak persiapan gak dari nol.

     Lucu juga kembali memilih-milih baju-baju mungil. Anehnya sekarang mungkin agak lain karena baju-bajunya mesti yang bernuansa boy sedangkan biasanya aku selalu memilih baju anak-anak warna pink. So rasanya kagok juga waktu pertama-tama. Memang sebelum salju turun mesti sudah bersiap-siap nyetok barang-barang. Karena kalau sudah datang dinginnya wah kayaknya mau keluar males banget. Belum lagi memasuki bulan desember kayaknya mesti bebenah rumah juga. Barang-barang baby kayak baju-baju yang beli di flohmarkt mesti dicuci lagi, belum lagi autosizt, tragetasche, kursi tidur bayi, dll bekas punya Adna dulu yang disimpan di gudang mesti dicuci2 lagi.

      Persiapan tempat tidur baby,  tempat menyimpan barang-barang baby, wah banyak juga yang perlu dikerjakan….Tapi Insya Allah enjoy juga ngerjain semuanya…

Lebaran

October 24th, 2006 by nurista166

    Alhamdulillah lebaran sampai juga. Dan ini adalah lebaran ke-5 ku tanpa sanak keluarga di Indonesia. Untung saja meskipun tak sempat berkumpul di tengah-tengah keluarga tapi kebahagiaan lebaran Insya Allah meskipun hanya secuil masih tetap menyelimuti hati ini.

   Paling tidak aku bersyukur karena meski tinggal jauh di negara yang mayoritas non muslim, tapi masih ada teman-teman, sahabat, dan tentu saja saudara-saudara muslim yang masih memiliki semangat serta kepedulian untuk tetap menghangatkan suasanan Lebaran. Tahun berganti tahun alhamdulillah Allah tak habis-habisnya mengirimkan orang-orang kreatif yang membuat suasana lebarang menjadi ceria. Dulu ada Eli dkk mahasiswi IKIP Bandung yang sedang menjalani tugas Au Pair, mereka kreatif juga. Mereka pernah tampil untuk bernasyid ria, terampil membantu tugas-tugas konsumsi dan membatu tugas-tugas lain.

   Juga pemuda-pemudanya ada Sofyan, Prio, Pram, Rico, dll. Acara kuis keluarga yang dipandu Eli dan Sofyan sebagai MC-nya juga selalu segar karena mereka kompak sekali. Atau pasangan MC kompak dan jenakan lainnya seperti Pipit dan Adek. Prio juga berbakat menyusun acara, membuat cerita panggung boneka, hingga membuat VCD Idul Fitri. Makanya rasanya sedih sekali ketika satu persatu mereka balik ke tanah air, rasanya Muenchen kembali sepi. Kadang datang kekhawatiran bagaimana nanti acara lebarannya, siapakah yang akan menghandle semuanya?. Sedangkan aku sendiri masih merasa belum sekreatif mereka dalam membuat acara-acara lebaran.

     Tapi ya mungkin Allah mendengar kekhawatiran ini,sehingga bagaikan musim yang silih berganti hadir dengan suasana yang nyaris sama, demikian pula orang-orang pun silih berganti hadir mewarnai kegiatan lebaran di muenchen. Orang-orang yang datang berikutnya ternyata juga tak kalah punya kreatifitas sendiri. Dulu permaianan alat musik selalu diisi oleh Pak Wijaya Sekar dengan gitar atau keyboardnya, sekarang beliau tidak di sini masih ada Vinda yang dengan cekatannya mengcover background musik. Sebagai MC ada Ega dan Ninit. Begitu pun para pemuda atau kaum laki-lakinya yang baru-baru juga oke dalam mempersiapkan acara-acara lebarang.

       So special thank’s untuk teman-teman yang sudah susah payah menyiapkan semuanya sehingga lebaran menjadi berkesan. Mungkin tidaklah begitu penting bagi kita yang sudah banyak mendapat kenangan lebaran di Indonesia, tapi bagi anak-anak kita hal ini menjadi moment yang sangat-sangat penting. Bagaimana membuat mereka semakin senang dengan identitas ke-Islamannya yang tentu saja tidak melulu diwarnai kegiatan ritual ibadah namun juga ada keceriaan khas masa kanak-kanak.

Puasa? ya….tidak…

September 25th, 2006 by nurista166

    Begitulah setiap kali memasuki bulan Ramadhan sedangkan kondisi badan lagi hamil atau menyusui, selalu resah untuk memilih berpuasa atau tidak. Para Ulama memang semuanya sudah sepakat bahwa  wanita hamil atau menyusui tidak diwajibkan untuk berpuasa. Dengan didasarkan pada QS. Al-Baqarah : 184. Tapi emang mesti dibayar. Nah bentuk-bentuk bayarnya ini beberapa Ulama konon berbeda pendapat.

    Sebagian mengatakan wanita hamil dan menyusui dikategorikan sebagai orang sakit sehingga cara pembayarannya adalah dengan qadha’ di hari lain. Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa bumil dan bu sui itu dimasukkan dalam kelompok orang yang tidak mampu berpuasa. Jadi seperti orang lanjut usia dan kaum dhuafa yang harus bekerja keras sepanjang tahun (misal kuli bangungan, tukang becak), sehingga pembayarannya dengan fidyah. Sedangkan kelompok ulama yang lain berpandangan bahwa pembayarannya itu tergantung motivasi sang Ibu ketika dia memutuskan untuk tidak berpuasa. Jadi kalau motovasinya karena mengkhawatirkan kondisi bayinya maka hukumnya seperti orang yang tidak mampu berpuasa sehingga pembayarannya hanya dengan fidyah. Tapi kalau yang dikhawatirkan diri sendiri maka hukumnya seperti orang sakit yang berarti harus membayar qodho puasa.

       Dulu pengalamanku hamil pertama, aku hampir total tidak berpuasa. Puasa waktu itu hanya beberapa hari pertama dan karena waktu itu usia kandungan masih pada trisemester pertama jadi pas puasa justru muntah-muntahnya makin hebat. Dan ada kekhawatiran pula jika berpuasa maka asupan cairan akan berkurang padahal itu sangat penting untuk peredaran sari-sari makanan ke janin. Jadi meskipun makan banyak pas malamnya tapi terkadang untuk minum banyak-banyak sudah tidak kuat lagi. Jadi aku memutuskan untuk tidak berpuasa. Dan aku hanya membayar fidyah, tidak qodho.

           Begitupula ketika menyusui Adna. Menyusui tahun pertama seingatku juga tidak puasa sama sekali karena full ingin menyusui Adna. Dari beberapa pengalaman orang lain yang mencoba berpuasa saat menyusui membuat ASI encer, tidak enak, bahkan cenderung membuat bayi mencret. Tambahan lagi saat itu aku kuliah di Uni yang memakan waktu 2 jam perjalanan dan bolak balik jadi 4 jam. Kondisi fisik rasanya juga tak memungkinkan. Pernah mencoba puasa dan akhirnya jatuh sakit.  Setelahnya aku juga bayar hanya dengan fidyah. Baru pas tahun ke-2 aku coba untuk berpuasa karena Adna sudah besar.

              Baru tahun kemarin bisa puasa tanpa gangguan "panggilan tugas seorang ibu". Nah tahun ini kembali aku menjalankan " tugas ibu" yaitu hamil. Dan sekarang sudah memasuki minggu ke 27. Janin sudah cukup besar. Kembali keresahan menghantui antara ingin berpuasa atau mengambil keringanan itu. Banyak referensi yang aku baca bahwa berpuasa saat hamil sama sekali tidak berbahaya terutama untuk kehamilan di atas 5 bulan, sang ibu tidak mengalami gizi buruk, tidak diabetes, atau tidak hipertensi. Tapi terkadang masih ada kekhawatiran tersendiri. Apalagi jika malamnya karena kelelahan lebih banyak tertidur daripada makan dan minum yang cukup.

        Hari pertama aku mencoba berpuasa. Alhamdulillah tidak ada yang aneh. Si baby anteng2 aja dan tetap aktif bergerak-gerak. Aku bahkan masih tetap beberes rumah yang seperti kapal pecah gara-gara hari sabtu kami tinggal bepergian. Belum lagi ada tamu yang membuatku harus memasak dan membuat makanan kecil (tamuku non muslim). Meski tamuku menolak untuk makan dan minum, tapi aku sudah terlanjur masak. Walhasil ketika dia pamit pulang, dan jam baru menunjukkan pukul 5 sore tandanya masih 2 1/4 jam lagi berbuka aku mendadak teler. Lemes dan ngantuk berat. Aku usahain tidur, tapi si Adna ingin diajak main. Ya sudah aku baca-bacakan buku sambil mata setengah memejam. Adna berulangkali protes kalau aku ketiduran. Akhirnya aku menyerah dan meminta Adna nonton TV, dan aku jadi terlanjur gak bisa benar-benar tertidur. Tapi tetap aku usahain berbaring.

          Pas berbuka kaget banget melihat nasi yang baru aku masak tadi pagi sudah sedikit basah. Wah pertanda sebentar lagi basi. Berhubung sudah lapar berat akhirnya kita nekat makan juga. Dan aku hanya mampu makan sedikit. Akhirnya hari kedua aku putuskan untuk tidak berpuasa. Meski ikutan makan sahur dengan mas nano, tapi aku niatkan untuk tidak berpuasa karena mau recovery membayar kekurangan asupan gizi kemaren. Anehnya memang hari ini aku jadi bolak balik makan….hehhehehhe

            

Mama kenapa masih mau sama Papa…?

September 21st, 2006 by nurista166

            Sharing atau ngobrol-ngobrol dengan sesama ibu kadang-kadang membawa pengalaman baru tersendiri. Seorang ibu pernah ngobrol tentang anaknya yang sekarang mulai sedikit ‘kritis’ mengomentari pola hubungan mama dan papanya. Suatu hari beliau dan suami tercinta ceritanya sedang punya problema ‘kecil’, biasalah bumbu penyedap rumah tangga. Dan tentu saja kadang diikuti aksi diam-diaman  (biasanya sih gak lebih dari 3 hari tentu saja).

          Sang anak yang agak heran dengan perubahan sikap si ibu yang misalnya sementara puasa bicara dan puasa menyediakan sarapan buat papanya tiba-tiba berkomentar, " Mama, jika mama sudah gak suka sama Papa lantas kenapa masih mau dengan Papa….?". " Teman-temanku (yang bule terutama) jika Mamanya sudah gak suka sama Papanya maka Papanya akan pergi begitu saja….". "Dan Mamanya itu akan cari pengganti nya yang lain kan tentu saja masih banyak yang suka…." begitu komentar sang anak lugu dan polosnya.

            Tentu saja sang ibu menjadi terhenyak sebentar begitu juga aku yang mendengarkan cerita  versi tak langsungnya. Yah anak-anak begitu polos bagaikan kertas putih kosong yang terkadang mendapat dan menyerap nilai-nilai di sekitarnya dengan lugu pula. Misalnya ketika ia bertandang ke rumah temannya kemudian ketika ia tidak pernah melihat papa temennya itu dan menanyakan keberadaannya sang teman dengan entengnya menjawab, " Papa saya pergi tuh, kan Mama saya sudah gak suka lagi…!". Dan sang teman itu  pun seolah-olah memaklumi semuanya seakan-akan yang pergi itu adalah orang yang tidak begitu penting dalam hidupnya. Atau mungkin sang teman  memang sudah merasa tidak membutuhkan sosok itu atau prasangka baiknya sang bapak masih tetap menjalankan peran kebapakannya meski tak menyandang gelar suami si ibu. Sehingga bagi si anak tak masalah sang Bapak di rumah sepanjang waktu atau hanya waktu-waktu tertentu untuk mengajak mereka jalan-jalan atau bermain. Entahlah……

            Aku merasa betapa perbedaan budaya begitu tajam untuk masalah ini. Di Indonesia jika bapak ibunya berpisah dan ketika sang anak ditanya keberadaan bapak atau ibunya yang tidak pernah ada di rumah, maka ia akan malu-malu mengatakan bahwa orangtuanya sudah berpisah. Malah tak jarang mereka menutup-nutupi dengan menjawab si bapak lagi tugaslah atau si bapak lagi bepergian lamalah. Memang karena anak adalah polos jawaban-jawaban mereka seringkali adalah cerminan jawaban sang ibu/sang bapak sendiri ketika sang anak bertanya. Ada ibu/bapak yang bisa sangat terus terang menjawab apa adanya tapi ada juga yang berusaha menutup-nutupi hal yang sebenarnya karena takut menyakiti perasaan hati anaknya atau risih jika didengar orang luar.

          Dari kejadian itu yang menjadi bahan renunganku bukan hanya masalah pola komunikasi yang berbeda antara budaya umum di Indonesia dan budaya umum di belahan bumi barat ini namun terlebih adalah pemaknaan nilai ‘pernikahan’. Bagi budaya timur pernikahan adalah ikatan janji suci yang tidak akan mudah putus dengan permasalahan suka atau tidak suka, lust oder nicht lust (gairah atau tidak bergairah)….Problema tentu selalu ada. Gelombang pasti akan menghantam perahu Rumah Tangga baik kecil maupun besar tapi pemaknaan akan suatu problema itulah yang menentukan biduk itu akan terus berlayar atau karam ke dasar laut.

           DImana-mana memang selalu ada tesa dan antitesa. Misalnya pihak barat menganalisa bahwa rendahnya angka perceraian di belahan dunia timur dikarenakan ketertindasan kaum perempuannya. Misal secara ekonomi kaum perempuan timur banyak yang bergantung pada pasangannya begitupula secara status sosial. Status sosial menjanda di belahan dunia timur lebih sering berkonotasi negatif sehingga banyak menimbulkan resiko yang berat dibandingkan dengan belahan dunia barat. Sedangkan pihak timur menganalisa tingginya angka perceraian di belahan barat karena ego individu yang terlalu tinggi dan pola pergaulan bebas yang semakin buruk.

           Bijaksana mungkin adalah ketika mau bercermin dan jujur pada diri sendiri ketika problema hebat itu diuji cobakan oleh yang Di atas. Dan karena rumah tangga adalah bak perahu yang ditumpangi tidak hanya sang suami atau istri saja tapi ada anak-anak tercinta mungkin perlu dipikirkan solusi yang terbaik bagi semuanya. Dalam Islam sendiri meski perpisahan itu adalah sesuatu yang syah (jika tak ada jalan keluar) tapi paling dibenci Allah.

         So, mungkin ketika anak-anak kita mendapatkan nilai yang menurut kita ‘lain’ seperti hal di atas, maka penjelasan dari pertanyaan itu menjadi begitu panjang dan lebar. Tapi mungkin itulah kesempatan kita berdialog dengan anak akan arti sebuah nilai yang kita anut.Wallahu alam bin shawab.

Met Puasa

September 21st, 2006 by nurista166

Tak terasa rasa syukur akan datangnya bulan Ramadhan dalam kehidupanku semakin menggema. Semoga Allah memberikan kepada hambanya ini untuk meningkatkan kekhusyukan ibadah, kedekatan spiritual dan kematangan jiwa.

Teruntuk teman-temanku di friendster, sekali lagi SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA. Mohon maaf lahir dan bathin jika ada perbuatan atau kata-kata yang kurang berkenan.

Fakta Elterngeld 1

September 15th, 2006 by nurista166

    Sejak pertamakali mendengar adanya diskusi-diskusi oleh politisi tentang elterngeld aku dengan penuh antusias selalu pasang telinga. Kabarnya sih para negarawan Jerman mulai kebakaran jenggot melihat angka kelahiran dari tahun ke tahun yang terus melorot jatuh. Bahkan diperkirakan pada tahun 2020 bangsa Jerman akan berkurang hingga 50%. Tahun ini saja peta demografi (kependudukan) mulai cenderung berbentuk piramida terbalik. Artinya lebih banyak penduduk tua-nya dibandingkan penduduk mudanya. Padahal untuk negara sosial demokrat kayak Jerman ini subsidi silang berlangsung antara golongan muda yang produktif dan golongan tua yang sudah pensiun. Gaji para karyawan dipotong pajak dan juga tabungan hari tua yang sebetulnya untuk masa kini dipinjam dulu untuk bayarin uang pensiun para golongan tua.

     Nah, jika golongan produktif makin sedikit maka beban pemerintah Jerman untuk menyantuni kaum tuanya semakin bertambah. Sayang kekayaan alam mereka gak semelimpah Indonesia, dan jantung perekonomian mereka ada di industri. Untuk tahap pertama mereka mengambil tindakan untuk menunda umur pensiun hingga berusia 68 tahun. Dan yang kedua adalah terus mempropaganda orang untuk mempunyai anak. Pemerintah Jerman sudah menyediakan kindergeld untuk tiap anak yang lahir sebesar 154 euro perbulan hingga usia 18 tahun. Namun ternyata hal ini masih belum cukup bagi orang untuk punya anak. Karena keyataannya uang sebesar itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan uang yang harus dikeluarkan jika memiliki anak.

       Belum lagi, banyak kasus keluarga-keluarga yang merasa pendapatannya jauh berkurang ketika punya anak. Terutama untuk keluarga yang si ibu tadinya bekerja. Memiliki seorang pembantu tentu saja bukanlah hal yang normal di sini maupun di negara maju yang lain. Maka tak heran jika seorang bintang film ternama saja akan dengan susah payah mengurus sendiri bayinya, minimal hingga 1 tahun. Maka mau tak mau sang ibu harus berhenti bekerja seperti cuti atau mengambil paruh waktu. Dengan demikian otomatis pendapatan keluarga itu akan berkurang drastis. Karena untuk cuti yang panjang gajipun akan dipangkas besar-besaran. 

       Mungkin banyak yang memandang itulah konsekuensi berkeluarga. Meski pengeluaran bertambah namun bukankah kebahagiaan dan keceriaan bertambah pula?. Tapi mayoritas masyarakat disini tak berpikir demikian. Jika dengan kehadiran seorang anak lantas pendapatan berkurang sehingga tak bisa lagi sedikit memanjakan diri untuk berlibur atau berkunjung ke kafe, maka lebih baik untuk tidak memiliki anak. Kalau ditanya apakah mereka akan memikirkan kondisi mereka kelak jika tua nanti, mungkin mereka hanya tersenyum dan bilang kami hanya ingin menyelamatkan diri kami sendiri saat ini.

Nonton Film Indonesia

September 14th, 2006 by nurista166

    Sebetulnya sudah agak lama aku kenal youtube yang temen-temen bilang bisa nonton film-film Indonesia atau acara-acara Indonesia seperti Indonesia Idol. Tapi waktu itu mungkin belum pengin aja dan mungkin juga lebih tertarik untuk mengerjakan sesuatu yang lain. Namun sejak seminggu ini, manakala si Adna sudah masuk sekolah lagi dan tinggallah aku sendiri dengan seabrek rutinitas pekerjaan rumah tangga keinginan untuk nengok film-film Indonesia di youtube jadi tinggi. Untungnya tidak ada tuntutan apakah pekerjaan rumah tangga itu harus segera selesai apa tidak, asal yang paling penting tetap harus menjaga tersedianya makanan, beberes (kalau gak ada tamu bisa beberes sekedarnya :-)….) , antar jemput adna dan ngajak main dia kalau dia udah pulang.

     So, lumayanlah film-film itu bisa menjadi obat kangen dengan kampung halaman. Dan yang lebih mengejutkan ternyata film-film Indonesia sekarang (setelah AADC) bagus-bagus. Setidaknya dari dua film yang kuntonton seperti Brownies dan Ungu. Apalagi film Ungu, waduh aku bener-bener suka. Film drama percintaan yang menyentuh dengan acting yang gak jelek-jelek amat. Terus nuansa penumpahan emosinya betul-betul menarik. Dari setting gambar yang diambil, wah ternyata Jakarta gak kalah jauh dibanding dengan setting-an Manhattan..kek..kekek….terus setting musik dan dialog-dialognya udah mulai lebih dewasa. Cuma satu yang aku kaget (wuih dasar gak ‘gaul’) udah banyak yah profesional2 muda Jakarta yang tinggal di apartemen-apartemen. Dari apartemen yang sederhana sampai yang mewah. Hihhi jadi udah mulai nih mendekati background film Hollywood.

       Dan emang Mira Lesmana masih perlu diacungi jempol, film Ungu ternyata juga salah satu garapannya. Untuk film Brownies, juga udah mulai penumpahan cerita yang sedikit lebih dewasa. Paling enggak, tokoh-tokohnya gak hanya mamerin harta ortunya tapi mereka juga kerja dan berkarier. Cuma sebel juga, emang banyak yah orang-orang Jakarta yang jadi ke-barat2an gitu ngomongnya. Perasaan lawan bicaranya sesama Indonesia deh. Atau mungkin doi lagi belajar ngelancarin bahasa Inggrisnya?.

         Tapi ada film yang menurutku super jelek. Yaitu Belahan Jiwa. Waduh-waduh ternyata produsernya emang gak jauh-jauh dengan produser sinetron-sinetron Multivision. Mungkin tuh orang tadinya punya ide yang lumayan kreatif, yaitu ingin membuat  film berlatang belakang psikologi. Atau mungkin dia abis baca bukunya Sibil seorang yang punya multikarakter gara-gara diperlakukan tidak baik oleh orangtuanya. Tapi kenapa jadi filmnya kehoror-horor-an gitu sih..! sebel banget aku nontonnya. Emangnya konsumen indonesia maih suka yang serem-serem gitu. Kalau mau bikin film serem yah thriller sekalian, tapi aku udah mulai ogah dengan thriller-thriller yang cuma ngedepanin sisi tegangnya tanpa ada jalur cerita yang jelas dan bagus. Dan di film ini rasanya unsur mengada-adanya banyak banget. Apalagi acting si cowoknya yang aduh bikin tambah burem aja deh.
      Oke deh, back to real life…..masak, nyetrika, nyuci…etc…

Berenang

August 10th, 2006 by nurista166

    Berenang di musim panas tentu saja menyenangkan. Makanya begitu memasuki musim panas, aku dan adna bersiap-siap untuk pergi berenang. Tapi awal-awal musim panas yang ternyata menyengat sekali seringkali malah menghalangi langkah kaki untuk pergi ke kolam renang. Ada saja alasannya, entah itu kebetulan aku sakit flu (flu musim panas tak kalah parahnya dengan flu musim dingin), Adna sakit karena imunisasi, atau tiba-tiba hujan.

    Akhirnya setelah benar-benar tidak ada halangan, sudah sejak 3 minggu lalu kami pergi ke kolam renang di dekat rumah. Dengan bus hanya ditempuh selama 6 menit terus disambung jalan kaki sekitar 15 menit. Kebetulan di kolam renang itu selalu disediakan waktu setiap hari Rabu jam 15.00-20.00 khusus untuk perempuan. Wah jadi renangnya benar-benar menyenangkan. Paling enggak kita merasa tidak was-was ketika harus memakai baju renang.

     Sebetulnya aku punya juga baju renang muslim yang waktu itu aku pikir bisa aku pakai saat berenang di kolam renang umum. Dan pernah aku pakai, walhasil banyak orang yang ngelihatin dan berpandangan aneh. Tadinya aku mah cuek-cuek aja dengan baju renang ala baju selam itu. Tapi ketika ada orang yang bisik-bisik dan kedengeran aku, mereka bilang…"Hmm…apa gak kepanasan dan kedinginan tuh…!". Eh pas aku pikir-pikir emang pertama kali ketika aku pakai wah bener-bener panas. Memang kebetulan waktu itu cuaca memang lagi panas-panasnya. Terus waktu nyemplung ke kolam sih gak papa…tapi begitu mentas ke darat lagi..brrr..jadi dingin yak!. Maklum angin sepoi-sepoi menerpa badan yang terbalut baju basah kan jadi menggigil. Waduh pantesan kenapa baju renang dibuat seminim mungkin pertama untuk menghindari kepanasan sebelum nyemplung kolam dan yang kedua gak kedinginan, krn begitu mentas bisa langsung ditutupin handuk.

        Akhirnya yah yang paling nyaman memang berenang di kolam tertutup dan hanya pas jam khusus untuk perempuan. Nah, ternyata kesempatan ini memang tak disia-siakan banyak wanita muslim. Banyak juga mereka yang berasal dari Turki dan negara-negara Arab yang datang. Tak lupa mereka juga sepertiku membawa anak-anak mereka. Bahkan ada yang baru usia sebulan juga dibawa.

       Tak heran karena ini kesempatan langka maka setiap hari Rabu, kolam itu kebanjiran pengunjung. Pengunjungnya bahkan meningkat 300% dibandingkan hari-hari biasa. Dan waktu itu sempat dibahas akan diadakan hari tambahan di hari minggu juga meski hanya sebulan sekali atau dua kali. Tapi sayangnya sampai hari ini tambahan hari itu tak pernah terwujud.

        Tapi memang para petugas kolam renang yang juga para wanita ( dari yang jual karcis, tukang bersih-bersih, sampai life-guardnya) kadang merasa kewalahan dan pusing tujuh keliling manakala datang hari Rabu. Betapa tidak para pengunjung yang rata-rata membawa anak balita itu terkadang kelupaan meninggalkan sampah diapers dimana-mana. Belum lagi budaya para pengunjung ini lain dibandingkan dengan pengunjung biasa yang orang Jerman. Mereka bawa-bawa makanan berat, cemilan, sampai termos-termos minum ke kolam renang. Dan ajang piknik pun berlangsung di tempat makannya. Tentu saja pengunjung yang banyak dan makan makanan berat seringkali mengotori lantai. Banyak remah-remahan kue dan juga roti berserakan.

          Sedangkan pengunjung Jerman, biasanya hanya membawa selembar roti isi daging asap dan buah-buahan yang mereka makan di dekat kolam. Tempat makan yang disediakan biasanya hanya digunakan untuk minum-minum kopi yang memang disediakan oleh kantin. Jadi memang relatif tidak begitu meninggalkan jejak kotoran dan si petugas bersih-bersih tak harus berkeringat membersihkannya.

              Belum lagi pengunjung Jerman dikenal memang praktis. Mereka bisa saja langsung berganti pakaian di luar kamar ganti. Sehingga tak perlu berebutan atau ngantri kamar mandi. Belum lagi banyak juga diantara mereka yang setelah berenang tak harus mengeringkan rambut bahkan masih basah-basah dan kelihatan belum tersisir rapi sudah keluar. Sedangkan kami-kami mesti harus berganti pakaian di dalam kamar ganti, belum lagi mengeringkan rambut plus menyisisirnya sebelum dibalut kain kerudung. Walhasil memang keadaan jadi heboh.

            Jika dilihat dari kas penghasilan mungkin memang meningkat tajam, tapi jika harus dibayar kestressan para petugas mungkin hal ini yang menjadi ganjalan mereka untuk menambah jam renang perempuan. Namun beberapa hari yang lalu aku sempat baca berita bahwa ada seorang pengusaha Itali yang akan membuka resot pantai khusus untuk perempuan. Dan dia yakin akan sukses. Karena memang wisata pantai dengan pakaian tertutup apalagi ala orang arab yang ber-abaya-ria tentu kurang nyaman. Mengingat kondisi pantai yang panas menyengat, maka alternatif pantai khusus wanita sangat menggiurkan. Apalagi bagi yang ingin berjemur. Namun pengusaha Itali itu harus banyak-banyak menambah personel kebersihannya mungkin supaya tidak pusing seperti petugas kolam renang di daerahku itu.

Sakit jantung?

July 29th, 2006 by nurista166

    Ah, tentu saja moga-moga enggak. Aneh memang perasaan sejak hamil kedua selalu aja ada yang serba gak enak. Dari mulai sering eneg-eneg terus muntah bahkan sampai umur 18 minggu ini, si eneg masih kadang muncul. Belum lagi sakit punggung dan tulang ekor. Nah yang bikin rada khawatir adalah munculnya gejala sesak napas tiba-tiba. Terutama kalau kecapekan atau udara yang terlalu panas di tempat yang ventilasinya kurang. Mungkin sebetulnya wajar aja kali ya.

    Apalagi mengingat sekarang kerja jantung makin keras karena harus memompa jantung bagi 2 individu. Tapi emang pernah sih suatu hari mendapat serangan sesak nafas yang parah. PAdahal pas lagi bengeknya gak kambuh. Kejadiannya dua hari setelah memakai obat anti mual yang diberikan oleh dokter. Sepertinya gak ada hubungannya, dan pas nanya ke dokter lewat telpon, beliau juga meyakinkan bahwa itu bukan karena si obat anti mual itu. Waktu itu rasanya memang benar-benar mau pinsan. Disangkain karena kurang menghirup udara segar, kita malah jalan-jalan ke MArientplazt. Baru 15 menit udah pulang lagi karena sesak nafasnya gak berkurang.

      Pas ke DSOG lagi dia nanyain keluhan-keluhanku, yah udah aku jawab aja, suka sesek nafas. Tapi sudah aku tekankan sih bahwa sejauh ini sesak nafasnya gak terlalu parah lagi. Paling hanya terjadi selama 5-10 menit saja. Tapi DSOG-nya jadi panik, apalagi pas aku bilang bahwa aku juga jadi cepet lelah. Saat itu juga dia panggil suster untuk periksa HB-ku. Sampil diambil darah si dokter tetap mendampingi dan langsung dilihat hasilnya, ternyata HBku normal aja tuh.

     So, akhirnya si dokter mengirim aku pada seorang Kardiolog. SEtelah bikin janji dengan resepsionis sang dokter lewat telpon, aku datang seminggu kemudian. Pas datang itu kebetulan aku baru sakit flu sejak 3 hari yang lalu. dan baru 3 hari yang lalu pula si bengek datang hingga sesek nafas dan bunyi ngik-ngik. Tapi waktu itu aku males banget pergi ke dokter hausarzt (semacam dokter umum pribadi). Emang di jerman ini urusan sakit bisa jadi ribet. Pertama seharusnya ketika kita sakit, harus datang ke dokter hausarzt itu. Nanti dia yang akan memeriksa, kalau bisa ia tangani sendiri tapi kalau ada suatu kejadian khusus maka dia akan mengirim kita ke dokter-dokter spesialis. Begitu pula jika kira hamil dan datang ke spesialis kandungan, maka si dokter spesialis kandungan itu akan mengirim surat lapor ke dokter hausarzt kita. Nah ini kadang kala suka bikin males, jadilah si surat lapor itu masih ada di rumah, gak dikasihkan ke hausarzt. Jadi seharusnya pula yg mengirim aku ke kardiolog itu hausarzt. Berhubung aku males kesana, akhirnya si dokter DSOG itu yang mengirim.

      Sampai tempat praktek dokter kardiolog sudah menunggu banyak pasien. Dan lucunya semua pasien sudah nenek-nenek dan kakek-kakek semua. Di sana sebelum bertemu dokter aku ditangani seorang suster untuk dipasangi alat EKG. Dimana banyak sekali elektroda yang ditempelkan di kaki dan sekitar dada. Aku jadi inget pelajaran BIomedik saat kuliah dulu. Tapi yah berhubung sudah lupa, aku pasrah saja diperiksa begitu. Hasilnya kemudian diserahkan ke dokter. Jadi pas aku dipanggil dengan si dokter itu dan masuk ke ruangan prakteknya dia mulai melakukan observasi dengan nanya ini itu. Kata dia emang dari hasil EKG tersebut ada pulsa-pulsa yang tinggi. PAs dia periksa kebetulan lagi banyak lendir di paru-paru. Aku bilang bahwa aku juga punya penyakit asma-bronkitis. Dan sesak nafasku bisa juga kemungkinan karena penyakit itu. Tapi si dokter masih terus nanya-nanya dari mulai gimana dulu waktu hamil pertama, apakah ada komplikasi. Di keluarga ada keturunan sakit jantung apa enggak, tekanan darahnya tinggi apa enggak, dsb. Dan kujawab, enggak…semua.

       Karena masih penasaran, sang dokter mulai memeriksa lagi pakai alat sonogram. Dimana bunyi detak jantung kita terdengar jelas dari komputer. Pokoknya aku disuruh tarik nafas dan dihembuskan lagi kemudian ditahan beberapa detik. Terus masih ada pemeriksaan kelenjar tiroid di leher yang menggunakan sensor-sensor juga. KAta dia ada kemungkinan ketidak beresan kelenjar tiroid memacu kerja jantung yang berlebihan. Terakhir aku kembali diperiksa darah dan kemudian dipasangi elektroda-elektroda di sekitar dada kiri. Kemudian digantungi alat perekam denyut jantung yang dikalungkan ke leher. Aku diminta untuk tetap memakainya hingga keesokan hari. PAdahal hari itu juga aku sudah siap-siap berangkat camping. Untung saja suster bilang bahwa aku masih bisa melakukan aktivitas biasa, gak harus berbaring saja.

        Jadilah aku camping dengan elektroda-elektroda yang masih nempel itu. Untung camping di sini tridak perlu banyak mengeluarkan tenaga. Pergi pake mobil hingga ke lokasi kaplingnya. Terus mendirikan tenda juga gak perlu susah-susah kayak jama pramuka dulu. Tinggal memasukkan kawat fiber di parasut tenda yang sudah disediakan jalur-jalurnya. Jadi deh, tinggal dipantek ke tanah. Itu pun kaum bapak yang melakukan. Terus makan-makan sebentar dan tidur deh. Malem itu kebetulan aku gak bisa tidur sedikit pun. Tapi untung kondisi tubuh terasa fit-fit saja. Sampai pagi menjelang dan elektroda-elektroda itu bisa dicopot, aku bisa mandi lagi. Wah segar sekali, karena kebetulan udara waktu itu panas banget.

      Untuk hasil dari alat rekam itu katanya akan dikirim langsung ke dokter DSOG sebagai dokter yang mengirimku. Tapi untung sejak diperiksa itu, si sesek nafas udah jarang-jarang banget datang. AH, moga-moga itu hanya bawaan bayi…!

Berburu souvenir world cup

July 10th, 2006 by nurista166

     Selesai sudah perhelatan akbar 4 tahunan, World Cup, setelah sebulan mengharu biru manusia di muka bumi ini. The Final Times bahkan dalam suatu artikelnya pernah membahas adakah bagian di bumi ini yang ‘imun’ alias tidak terjangkau oleh gegap gempitanya World Cup?. Mereka mengasumsikan, mungkin Indonesia. Eh tapi asumsi mereka patah oleh fakta yang mereka temukan sendiri bahwa justru publik Indonesia sangat heboh menyaksikan World Cup. Bahkan ketika World Cup tahun 2002, penonton yang menonton live di Istora Senayan Jakarta jauh lebih banyak daripada yang menonton di stadion Yokohama. Wah emang kalau soal heboh, Indonesia jagonya.

      Aku sendiri sangat menikmati ajang ini, seperti yang kutulis di blog-ku yang lain (http://
www.laterne.blogspot.com). Dan satu hal yang menarik dari sisi World Cup itu adalah memburu souvenir. Beberapa orang kawan rela membeli kaos kesebelasan bola (Trikot) lebih dari satu macam. Padahal mungkin harga satu Trikot ini sebanding dengan harga 3 T-Shirt   di Esprit atau 1,5 kali T-Shirt bergambar buaya (LAcoste). 

      Belum cukup dengan Trikotnya bahkan mereka juga menambahkan dengan sablonan nama-nama bintang  kesayangan yang rupanya telah menjadi komoditi bisnis baru di ajang per-kaosan. Jadi bagi yang berminat untuk menambahkan nama dan nomor bintang kesayangan maka dikenai biaya ekstra. Seorang kawan lagi bahkan sampai sangat jeli memperhatikan apakah sablonannya bagus apa tidak, mendekati aslinya apa tdak. Maklum menurutnya sablonan asli itu hanya dikeluarkan oleh pabrik-pabrik kaos yang official. Seperti trikot Jerman, maka yang mengeluarkan sablon asli adalah Adidas dan trikot Brazil adalah Nike atau trikot Inggris Umbro, dst. Dari survey dia sablonan tiruan oleh mal-mal itu yang mendekati asli hanyalah sablonan yang berwarna hitam. Tapi tidak untuk warna lain.

       Dia berusaha membuat sablon untuk trikot kesayangannya yaitu Brasil dengan nama Kaka. Tapi sayangnya setelah muter-muter kesana kemari semua sablonan yang ditawarkan oleh mal meski berwarna hijau seperti aslinya, tapi mal itu tidak menyediakan huruf ‘a’ coret sebagaimana nama Kaka yang asli mengandung karakter huruf ‘a’ coret di akhirnya. Tentu saja dia tidak puas, setelah tanya sana sini jika dia mau yang asli maka harus ke sablonan asli Nike. Akhirnya dia menyerah dan urung untuk memberikan nama Kaka. Tapi ketika dia ingin menyablon trikot Inggrisnya dengan tulisan Beckham no 7-nya itu dia pantang mundur. DIa cari betul-betul sablonan asli dari Umbro yang berwarna emas. Dan tentu saja harganya jauh lebih mahal dibandingkan sablonan mal.

       Tiap-tiap orang memang berbeda dalam menyikapi World Cup ini. Ada yang berhenti sekedar ajang tontonan namun ada juga yang ingin mengenangnya dalam wujud barang. Apalagi ketika World Cup itu diselenggarakan di negara tempat kita tinggal mungkin keinginan untuk merekamnya jauh lebih kuat. Meskipun tidak semua orang demikian. Aku pribadi memandang ini bukan hanya sekedar ajang tontonan tapi juga ajang sejarah. Betapa dulu aku pernah melihat seseorang memakai tas bergambar Burung Kakaktua yang merupakan mascot World Cup di Mexico (wah lupa tahunnya, tapi sudah lama sekali), rasanya turut senang. Juga ketika seorang teman yang tinggal di Jepang memakai gantungan kunci mascot World Cup tahun 2002. Kenangan hebohnya menonton pertandingan demi pertandingan kembali menyapa.

        Tapi memang untuk itu ukuran kocek perlu diperhatikan. Kadang upaya menunggu barang-barang tersebut di sale cukup untuk mendapatkan souvenir dengan harga miring. Karena memang souvenir-souvenir ini menjadi jauh lebih mahal untuk ukuran kelasnya. Semisal boneka Goleo atau gantungan kuncinya berharga 2 kali lipat untuk barang yang sekelas namun bukan Mascot World Cup. Nah di akhir-akhir ini barang-barang itu sudah turun ke harga aslinya. Sehingga mungkin tidak begitu rugi jika kita hendak mengkoleksinya. Begitu pun trikot-trikot yang dibanting harganya menjadi 50%. Tapi jangan salah ternyata untuk negara-negara Eropa trikotnya masih belum terlalu dibanting mengingat pertandingan Piala Eropa tahun 2010 masih ada. Dan tentu saja trikot ini masih dipakai.

     Souvenir World Cup memang banyak sekali ragamnya. Dari mulai tas, payung, boneka, sepatu, koos kaki, dan masih banyak lagi barang-barang kecil. Tapi yang menarik adalah bolanya itu sendiri. Karena bola ukuran standar ini memang bisa dimanfaatkan untuk bermain bola. Tapi mengingat di rumah tidak ada yang suka bermain bola maka mengkoleksi puzzlenya yang kecil dan bulat itu cukup memuaskan juga.

     Nah ya, silahkan yang hendak mengkoleksi souvenir bola….mungkin kelak bisa jadi memori tersendiri buat anak cucu bahwa kita pernah mengalami masa itu. Saya sendiri pernah heran ketika datang ke Berlin ada pedagang souvenir yang menjual bongkahan-bongkahan tembok Berlin yang sudah menjadi kepingan-kepingan kecil. Wah-wah disinilah sebuah barang souvenir betul-betul memainkan peranan subjektivitasnya.